Showing posts with label Aku. Show all posts
Showing posts with label Aku. Show all posts
19 December 2008
12 December 2008
Berubahlah untuk Maju!
Harus kita sadari
Perubahan tak datang sendiri
Berubahlah untuk maju
...
*) potongan jingle iklan sebuah produk susu di TV
Perubahan tak datang sendiri
Berubahlah untuk maju
...
*) potongan jingle iklan sebuah produk susu di TV
Sudah menjadi keyakinan atau paling tidak pengetahuan bagi banyak orang –termasuk saya juga, bahwa perubahan besar bisa berawal dari hal-hal kecil (yang dimulai dari diri sendiri dan saat ini juga. 3M-nya aa’, hehe...). Yang menjadi pertanyaan adalah apakah pengetahuan dan keyakinan itu sudah secara konsisten (atau istiqomah, kalau dalam istilah agama) dikonkretkan dalam amal nyata? Dan kalau belum, mengapa sampai terjadi inkonsistensi itu? Salah satu jawaban yang bisa ditawarkan adalah bahwa banyak orang –sekali lagi termasuk saya juga, yang terjangkiti ekspektasi instan.
Orang mengharapkan untuk segera memanen hasil dari apa yang sudah ia lakukan itu secepat mungkin. Kalau perlu, hasil sebesar-besarnya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Dan apa yang terjadi kalau perubahan yang diharapkan itu tak kunjung datang (atau sebenarnya datang/terjadi tetapi secara gradual sehingga tidak dapat dirasakan oleh kesadaran orang yang mempunyai ekspektasi instan)? Ya betul, yang terjadi kemudian adalah inkonsistensi itu tadi. Segala sesuatu yang pada awalnya kita kerjakan dengan penuh semangat lalu berhenti di tengah jalan karena perubahan yang diharapakan secepatnya datang itu tak kunjung hadir. Padahal, segala sesuatu memang butuh proses. There’s no shortcut to heaven.
Ekspektasi instan semacam itu tidak jarang juga terjadi saat kita mengikuti training-training atau pelatihan singkat. Misalnya saja ada ‘training sehari melejitkan spiritualitas’ dsb. Jangan pernah mengharapkan bahwa begitu keluar dari acara itu, kita langsung menjadi seorang yang spirituil, beriman, bertaqwa dan mampu menyumbangkan sesuatu yang besar pada dunia (sebuah ekspektasi instan). Masak cuma sehari doang bisa langsung seperti itu, seumur hidup juga belum tentu berhasil. Yang realistis untuk kita harapkan dari acara-acara semacam itu adalah adanya perubahan paradigma (paradigm shift) dalam diri kita. Misalnya cara berfikir, persepsi atau konsep diri yang lebih positif. Konsep diri misalnya, menjadi sangat penting perannya bagi perubahan diri karena seseorang akan berusaha hidup atau bertingkah laku sesuai dengan label atau konsep yang ia lekatkan pada dirinya.
Ngomong-ngomong soal konsep diri, saya merasa bahwa saat ini saya termasuk orang yang sangat perlu untuk memperbarui konsep diri: menjadi lebih positif! Berikut saya kutip ciri-ciri orang dengan konsep diri negatif dan positif, dari buku yang akhir-akhir ini sering saya baca, agar tahu apa saja yang perlu diubah agar konsep diri menjadi lebih positif.
Ciri-ciri orang yang memiliki konsep diri negatif:
(1) Tidak tahan kritik dan mudah marah. Koreksi sering dipersepsi sebagai usaha untuk menjatuhkan dirinya
(2) Responsif sekali terhadap pujian, walaupun mungkin berpura-pura menghindari pujian
(3) Mudah mengeluh, mencela dan meremehkan orang lain
(4) Cenderung merasa tidak disenangi orang lain
(5) Bersikap pesimis terhadap kompetisi
Ciri-ciri orang yang memiliki konsep diri positif:
(1) Yakin akan kemampuannya mengatasi masalah
(2) Merasa setara dengan orang lain
(3) Menerima pujian tanpa rasa malu
(4)Menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan, dan perilaku yang tidak semuanya disetujui masyarakat
(5) Mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha mengubahnya.
*dadang @121208,
masa penantian
masa penantian
05 October 2008
Selamat Idul Fitri 1429 H
Taqabbalallahu minna wa minkum...
Selamat Idul Fitri 1429 H.
Semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT, dan dosa-dosa kita diampuni oleh-Nya.
Mohon maaf lahir dan batin atas segala kekhilafan dan cedera hati yang mungkin pernah saya timbulkan.
sincerely,
dadang suhirman
Selamat Idul Fitri 1429 H.
Semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT, dan dosa-dosa kita diampuni oleh-Nya.
Mohon maaf lahir dan batin atas segala kekhilafan dan cedera hati yang mungkin pernah saya timbulkan.
sincerely,
dadang suhirman
31 August 2008
Marhaban Yaa Ramadhan

Banyak harapan di bulan Ramadhan 1429 H :
1. Ngaji lagi, khususnya yg dasar2: kitab tauhid, tata cara ibadah, tazkiyatun nafs, ...
2. Bisa rutin membaca Qur'an.
3. Belajar english dan tutorial software2 yang sudah ada di komputer tapi belum dipelajari.
4. ....
5. Bisa LULUS dan dapet Lailatul Qadar...
Selamat menunaikan ibadah Ramadhan.
Semoga menjadi pribadi-pribadi yang tercerahkan.
picture: [dari sini]
25 June 2008
22

Hari Selasa, 24 Juni 1986 sekitar jam 6-7 pagi, adalah pertama kalinya saya menghirup udara di bumi. Ini berdasarkan cerita Bapak-Ibuku yang pada waktu itu, sebagai orang tua, sangat berbahagia atas kelahiran anak laki-lakinya (yg lucu dan menggemaskan hehe...). Tentu saja saya sendiri tidak ingat kejadian pada saat itu.
Dan hari ini, hari Selasa (juga) 24 Juni 2008, saya genap berusia 22 tahun! Agak sedih juga kalau melihat umur yang sudah 22 tapi belum bisa memberi sumbangan apa-apa. Sudah 22 tapi belum jelas betul mau kemana. Tapi, saya ingin bersyukur. Bersyukur atas apa yang ada saat ini. Atas berbagai milestone penting dalam hidup yang sudah terlalui. Atas berbagai nikmat-Nya yang tentu tidak akan sanggup saya menghitungnya.
Sekarang, saya ingin sedikit bernostalgia ke masa kecil. Bukan untuk berhenti pada romantisme masa lalu. Tapi, sekedar menengok ke belakang. Life must be understood backward, but it must be lived forward (saya lupa ini kata2 siapa).
Salah satu hal yang masih saya ingat dari masa kecilku dulu adalah tentang saya yang ‘telat’ disapih. Saat teman-teman sepantaran saya sudah berhenti minum ASI pada waktu itu, saya masih lanjut terus. Ini sering jadi bahan ejekan mereka pada waktu itu (anak kecil memang suka ejek2an... hehe...). Sebenarnya saya sudah pernah disapih bareng dengan anak-anak yang lain, tapi saya malah sering nangis (dasar...). Akhirnya, ya lanjut terus sampai suatu saat, saya minta berhenti dengan sendirinya.
Momen lain yang sangat saya ingat adalah masa-masa bermain. Saya tinggal di desa, jadi banyak permainan tradisional yang masih sering dimainkan anak-anak –termasuk saya, pada waktu itu. Ada gobak sodor, sudamanda, dakon,benthik, nekeran, jamuran, bas-basan, dam-daman, boi-boinan, beteng-betengan, dll (namanya memang banyak yg pake kata ulang + akhiran –an). Kalau saya lihat, sekarang ini permainan-permainan itu sudah jarang dimainkan. Saya juga masih ingat saat masih suka main di pepohonan jambu (jambu biji, jambu susu, dan jambu monyet) di dekat sungai di belakang desa. Termasuk kejadian saat saya jatuh menuruni jalan terjal di bibir sungai yang membuat saya mengalami trauma ketinggian selama beberapa waktu.
Saya merasa sangat beruntung karena sewaktu kecil mendapat kenang-kenangan beberapa bendel majalah anak dari mas-mas dan mbak-mbak KKN yang mondok di tempatku. Saya rasa, pada saat itulah saya mulai senang membaca. Sampai sekarang ini.
Yah, sedikit flashback ke masa kecil. Hanya sekelumit saja. Cerita lain yang lebih panjang, mungkin lain kali. Sekali lagi, saya hanya ingin bersyukur. Bahwa setiap apapun yang telah terjadi dalam hidupku sejauh ini, telah mengantarkanku menjadi diriku saat ini. Perjalanan masih panjang. Masih banyak hal yang harus diperbaiki. Masih banyak mimpi-mimpi yang harus digenapi.
22 tahun sudah, semoga usiaku semakin berkah... Amiin yaa rabbal’alamiin
Dan hari ini, hari Selasa (juga) 24 Juni 2008, saya genap berusia 22 tahun! Agak sedih juga kalau melihat umur yang sudah 22 tapi belum bisa memberi sumbangan apa-apa. Sudah 22 tapi belum jelas betul mau kemana. Tapi, saya ingin bersyukur. Bersyukur atas apa yang ada saat ini. Atas berbagai milestone penting dalam hidup yang sudah terlalui. Atas berbagai nikmat-Nya yang tentu tidak akan sanggup saya menghitungnya.
Sekarang, saya ingin sedikit bernostalgia ke masa kecil. Bukan untuk berhenti pada romantisme masa lalu. Tapi, sekedar menengok ke belakang. Life must be understood backward, but it must be lived forward (saya lupa ini kata2 siapa).
Salah satu hal yang masih saya ingat dari masa kecilku dulu adalah tentang saya yang ‘telat’ disapih. Saat teman-teman sepantaran saya sudah berhenti minum ASI pada waktu itu, saya masih lanjut terus. Ini sering jadi bahan ejekan mereka pada waktu itu (anak kecil memang suka ejek2an... hehe...). Sebenarnya saya sudah pernah disapih bareng dengan anak-anak yang lain, tapi saya malah sering nangis (dasar...). Akhirnya, ya lanjut terus sampai suatu saat, saya minta berhenti dengan sendirinya.
Momen lain yang sangat saya ingat adalah masa-masa bermain. Saya tinggal di desa, jadi banyak permainan tradisional yang masih sering dimainkan anak-anak –termasuk saya, pada waktu itu. Ada gobak sodor, sudamanda, dakon,benthik, nekeran, jamuran, bas-basan, dam-daman, boi-boinan, beteng-betengan, dll (namanya memang banyak yg pake kata ulang + akhiran –an). Kalau saya lihat, sekarang ini permainan-permainan itu sudah jarang dimainkan. Saya juga masih ingat saat masih suka main di pepohonan jambu (jambu biji, jambu susu, dan jambu monyet) di dekat sungai di belakang desa. Termasuk kejadian saat saya jatuh menuruni jalan terjal di bibir sungai yang membuat saya mengalami trauma ketinggian selama beberapa waktu.
Saya merasa sangat beruntung karena sewaktu kecil mendapat kenang-kenangan beberapa bendel majalah anak dari mas-mas dan mbak-mbak KKN yang mondok di tempatku. Saya rasa, pada saat itulah saya mulai senang membaca. Sampai sekarang ini.
Yah, sedikit flashback ke masa kecil. Hanya sekelumit saja. Cerita lain yang lebih panjang, mungkin lain kali. Sekali lagi, saya hanya ingin bersyukur. Bahwa setiap apapun yang telah terjadi dalam hidupku sejauh ini, telah mengantarkanku menjadi diriku saat ini. Perjalanan masih panjang. Masih banyak hal yang harus diperbaiki. Masih banyak mimpi-mimpi yang harus digenapi.
22 tahun sudah, semoga usiaku semakin berkah... Amiin yaa rabbal’alamiin
12 June 2008
Senyum

Sudah lama nggak bikin postingan.
Untuk mengisi kekosongan posting bulan ini, saya mau memposting yang spesial.
Memposting senyumku (halah...)
Jadi ingat sama tulisan di cermin yang terpajang di dinding kamar temanku ini: "Have you checked your smile?"
Hmmm... bagus juga idenya.
Menaruh kata-kata seperti itu di cermin adalah ide yang sangat bagus.
Ada baiknya untuk memeriksa senyum kita setiap pagi, setiap hari.
Senyum memang perlu dirawat.
Karena senyum bisa membuat indah hari-hari.
Tapi lebih dari itu, seperti kata WS Rendra, karena senyum adalah sikap.
Sikap kita untuk Tuhan; manusia sesama; nasib; dan kehidupan...
Smile... :)
30 April 2008
Ulat Buku dan Laron
Suatu malam di perpustakaanku
Seekor ulat buku berkata pada laron, begini:
”Aku telah lama tinggal dalam buku tebal Ibn Sina
Dan banyak menghabiskan naskah al-Farabi
Namun aku tak memperoleh apa-apa
Tentang rahasia hidup,
Dan tetap dalam kegelapan
Seperti sebelum ini.”
Laron separuh terbakar memberi jawaban tulus:
”Kau tak akan mendapatkan rahasia hidup
Diterangkan dalam buku-buku.
Sekalipun begitu, ini kusampaikan:
Yang membuat hidup penuh kedahsyatan
Adalah keasyikan
Dipinjami sayap olehNya
Maka hidup pun terbang.”
(Ulat Buku dan Laron, Muhammad Iqbal)
*Sebagai pengingat untuk diri saya.
Yang semakin abstrak dan makin berjarak dengan kenyataan...
03 April 2008
Sedang Bingung

Bingung? Kenapa sampai bisa bingung? Gak tau lah, namanya juga lagi bingung. Tapi, dimana-mana, yang namanya bingung pasti karena kemampuan yang kurang memadai, kan. Atau bisa juga karena ketidaklengkapan informasi. Yang jelas, bingung itu output dari ketidaktahuan.
Ketidaktahuan memang bisa berakibat sangat fatal. Kalau salah penanganan, bisa jadi berujung keputusasaan alias kehancuran. Jadi ingat tentang 'dialektika penghancuran'. Ketidaktahuan jadi salah satu rantainya.
Kurang lebih seperti ini: Karena tidak tahu maka tidak bisa. Tidak bisa maka tidak kesampaian (tidak kelakon). Tidak kesampaian lalu marah. Kalau marah, hatinya panas. Hati yang panas tidak bisa mendengar. Kalau mendengar saja tidak bisa, bagaimana bisa belajar (memahami)? Karena tidak bisa belajar maka tidak tahu. Tidak tahu maka tidak bisa. Begitu seterusnya sampai bisa berujung pada keputusasaan (kehancuran). Ekstrim memang. Ketidaktahuan memang bisa berakibat sedemikian fatal.
Tapi, njuk aku piye iki? Aku kan lagi mengalami ketidaktahuan.
"Gampang to. Kalau gak tau, ya nyari tau."
Gimana mau nyari tau, aku kan lagi bingung?
"Siapa yang nyuruh bingung?!?"
"Dadang, kamu kan gak sendirian di sini..."
Ketidaktahuan memang bisa berakibat sangat fatal. Kalau salah penanganan, bisa jadi berujung keputusasaan alias kehancuran. Jadi ingat tentang 'dialektika penghancuran'. Ketidaktahuan jadi salah satu rantainya.
Kurang lebih seperti ini: Karena tidak tahu maka tidak bisa. Tidak bisa maka tidak kesampaian (tidak kelakon). Tidak kesampaian lalu marah. Kalau marah, hatinya panas. Hati yang panas tidak bisa mendengar. Kalau mendengar saja tidak bisa, bagaimana bisa belajar (memahami)? Karena tidak bisa belajar maka tidak tahu. Tidak tahu maka tidak bisa. Begitu seterusnya sampai bisa berujung pada keputusasaan (kehancuran). Ekstrim memang. Ketidaktahuan memang bisa berakibat sedemikian fatal.
Tapi, njuk aku piye iki? Aku kan lagi mengalami ketidaktahuan.
"Gampang to. Kalau gak tau, ya nyari tau."
Gimana mau nyari tau, aku kan lagi bingung?
"Siapa yang nyuruh bingung?!?"
"Dadang, kamu kan gak sendirian di sini..."
14 February 2008
Air...
| Your Element Is Water |
A bit of a contradiction, you can seem both lighthearted and serious. That's because you're good at going with the flow - but you also are deep. Highly intuitive, you tune in to people's emotions and moods easily. You are able to tap into deep emotional connections and connect with others. You prefer a smooth, harmonious life - but you can navigate your way around waves. You have a knack for getting people to get along and making life a little more peaceful. |
05 February 2008
Stay being good friends
You said, “...stay being good friends.”
OK. Don’t worry.
OK. Don’t worry.
***
|
Ceritanya, seorang perempuan datang dari masa depan untuk membunuh seorang laki-laki. Atau kalau dari sudut pandang si perempuan, ia kembali ke masa lalu, dimasa sebelum mereka (ia dan laki-laki itu) belum pernah bertemu. Ia ingin membunuhnya karena alasan yang diceritakan dengan alur flash forward dalam video klip ini. Kembali ke masa lalu dan merubah sesuatu, mengingatkan pada film The Butterfly Effect.
Ternyata...
Si perempuan, gak physically going back. Just her thought.
Si laki-laki, got the message.
Si perempuan, gak physically going back. Just her thought.
Si laki-laki, got the message.
13 December 2007
Belajar kembali tentang keikhlasan
Bukanlah kesabaran jika ada batasnya dan bukanlah keikhlasan jika masih terbelenggu sakit hati. Kesabaran bukanlah hanya berdiam diri, orang yang berkata sabar tanpa melakukan apapun berarti sedang menunggu kehancuran diri... Bersabarlah saat menghadapi orang lain, karena tanpa kita sadari, kitapun telah banyak menuntut kesabaran dari orang lain.
Ini adalah potongan dari sebuah pesan yang dikirimkan seorang teman kepada saya lewat message di FS beberapa waktu lalu. Pesan ini terasa sangat mengena bagi saya saat ini. Tidak lain tidak bukan, karena isi dari pesan itu memang pas banget dengan kondisi saya sekarang ini (atau belakangan ini lebih tepatnya). Saat saya menjadi begitu tidak sabaran, mudah mengeluh, gampang tersinggung, dan yang sefamili dengan mereka. Sebut saja mereka itu 'kuman-kuman' jahat yang secara pelan-pelan namun meyakinkan, telah menggerogoti hari-hariku. Membuat hari-hari yang seharusnya saya isi dengan sesuatu yang produktif dan indah, malah sering saya isi dengan hal 'tak berguna' dan sama sekali tidak indah. Bukankah mengeluh dan teman-temannya itu tadi adalah pekerjaan paling tidak produktif dan sama sekali tidak indah.
'Kuman-kuman' yang pada mulanya tampak kecil-kecil dan tidak berbahaya. Hingga pada akhirnya benar-benar menjadi sangat menyeramkan dan begitu berbahaya. Serem... Masalahnya sekarang, kira-kira apa yang membuat 'kuman-kuman' itu begitu kerasan melekat pada diri saya? Dan yang paling penting, bagaimana cara mendetoksinya? Tampaknya hal ini juga sudah tersampaikan dalam potongan pesan di awal tadi. Ya, keikhlasan. Saya memang harus belajar lagi, secara lebih serius, tentang keikhlasan itu tadi. Sebuah pokok bahasan yang sangat penting bagi siapapun. Sekaligus suatu ilmu yang pengamalannya tidak semudah dan tidak sesederhana yang dibayangkan. Karena, tentu saja, begitu banyak godaannya. Dan barangkali, inilah begitu pentingnya saling mengingatkan. Ketika ada jarak yang begitu jauh antara yang senyatanya dengan yang seharusnya...
'Kuman-kuman' yang pada mulanya tampak kecil-kecil dan tidak berbahaya. Hingga pada akhirnya benar-benar menjadi sangat menyeramkan dan begitu berbahaya. Serem... Masalahnya sekarang, kira-kira apa yang membuat 'kuman-kuman' itu begitu kerasan melekat pada diri saya? Dan yang paling penting, bagaimana cara mendetoksinya? Tampaknya hal ini juga sudah tersampaikan dalam potongan pesan di awal tadi. Ya, keikhlasan. Saya memang harus belajar lagi, secara lebih serius, tentang keikhlasan itu tadi. Sebuah pokok bahasan yang sangat penting bagi siapapun. Sekaligus suatu ilmu yang pengamalannya tidak semudah dan tidak sesederhana yang dibayangkan. Karena, tentu saja, begitu banyak godaannya. Dan barangkali, inilah begitu pentingnya saling mengingatkan. Ketika ada jarak yang begitu jauh antara yang senyatanya dengan yang seharusnya...
27 November 2007
Aku adalah...
Setengah iseng, akhirnya nyobain juga ngetes personality dan intelegences di mypersonality.info. Biasanya sih sesuatu yang dilakukan dengan setengah 'main-main', hasilnya malah serius.

Dari tes kepribadian itu, aku masuk tipe "The Strategist" dengan temperamen "Intelectual". Penjelasan untuk tipe ini dan tipe-tipe yang lain bisa dilihat di sini. Mengenai hasilnya yang menunjukkan kalau aku introvert, dari sebelum melakukan tes juga sudah bisa diperkirakan . Tidak terpikirkan untuk secara tiba-tiba sisi extravertku menjadi lebih dominan daripada sisi introvertku. Mungkin itu hanya akan terjadi -seperti kata seorang teman- jika aku menemui suatu unordinary life event dalam hidupku. Terus soal yang Intuitive, Thinking, dan Judging, sepertinya aku memang harus lebih mengenali diriku sendiri.
Sementara dari multiple intelegence test, ternyata aku ini seorang Naturalist.
Kok bisa??
Kok iso??
Apa memang iya ya...
Ah, aku ini. Jangankan untuk dapat memahami orang lain sepenuhnya, sama diri sendiri saja ternyata seringkali tidak benar-benar mengerti...
26 September 2007
Memberi ruang untuk puisi
Ada banyak puisi yg menurutku bagus dan inspiring. Saya memang bukan pencinta puisi yang bener-bener dong dan mengerti betul jenis sastra yang satu ini, tapi setidaknya saya bisa menikmatinya. Untuk beberapa puisi saja sebenarnya. Mungkin karena jiwa puitis (apaan ini...) saya sendiri memang selama ini kurang mendapat perhatian. Tapi saya pikir gak ada salahnya, kalau mulai sekarang sedikit memberi perhatian dan ruang untuk salah satu sarana pelembut hati ini. Saya pikir dalam diri saya (juga dalam diri setiap orang) memang ada jiwa puitis atau apapun lah namanya, yang bisa terasah asalkan diberi perhatian. Jadi, saya berharap hal ini tidak sia-sia, karena saya tidak sedang memberi perhatian kepada sesuatu yang tidak ada. Makanya, saya ingin sekali mengumpulkan puisi-puisi yang saya anggap bagus di blog ini.
Oiya, selama ini saya menyukai puisi-puisinya Taufik Ismail dan Emha Ainun Nadjib. Salah satu puisi yang cukup inspiring bagi saya adalah puisinya Taufik Ismail di bawah ini. Lain kali diposting puisi-puisi yang lain.
Kerendahan Hati
Taufik Ismail
Oiya, selama ini saya menyukai puisi-puisinya Taufik Ismail dan Emha Ainun Nadjib. Salah satu puisi yang cukup inspiring bagi saya adalah puisinya Taufik Ismail di bawah ini. Lain kali diposting puisi-puisi yang lain.
Kerendahan Hati
Taufik Ismail
Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,
yang tumbuh di tepi danau
Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang
memperkuat tanggul pinggiran jalan
Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang
Membawa orang ke mata air
Tidaklah semua menjadi kapten
tentu harus ada awak kapalnya...
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi
rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu...
Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri
22 September 2007
Akhirnya ngeblog
membaca membuatmu berisi...
menulis membuatmu seksama...
berunding membuatmu siap...
menulis membuatmu seksama...
berunding membuatmu siap...
Saya jadi teringat kutipan di atas dari salah satu edisi Bulaksumur Post (BulPos). Tiga aktivitas dalam kutipan tersebut (membaca, menulis, dan berunding) merupakan ketrampilan yang sudah seharusnya dimilliki oleh seorang mahasiswa. Hal ini menjadi salah satu hal yang membuat saya menulis dan mengurus blog ini. Harapannya, blog ini menjadi media untuk menuangkan gagasan, pengetahuan, cerita, dan uneg-uneg sekaligus sebagai media pembelajaran untuk belajar menulis dan knowledge sharing. Dengan begitu, diharapkan ketrampilan saya untuk tiga macam aktivitas yang saya sebutkan di atas, dapat terasah.
Mengurus blog itu menyenangkan, katanya. Seperti mengurus tanaman hias atau binatang piaraan. Seperti halnya tanaman atau binatang paiaraan, blog juga butuh dirawat, dipercantik, dan diberi makan (dengan tulisan).
So, semoga blog ini bisa memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi penulisnya sendiri maupun bagi sekalian pembaca...
Subscribe to:
Posts (Atom)