Showing posts with label Cerita Kampus. Show all posts
Showing posts with label Cerita Kampus. Show all posts

22 August 2008

Nangis...



Seharian tadi di kampus. Lumayan rame. Ada mahasiswa baru yang masih lucu-lucu lagi ngikutin ospek. Ada juga mahasiswa lama (OK janji, saya nggak akan nulis: mahasiswa tua, karena saya sendiri masuk di dalamnya. males banget nulisnya. =P ) yang lagi pendadaran atau sekedar menjadi suporter pendadaran seperti saya ini. Sebenarnya ada istilah lain dari cewek-cewek TI untuk para suporter pendadaran ini: dayang-dayang pendadaran (ya ampun...).
Ada yang menarik. Teman saya, ada yang malah terus nangis setelah dinyatakan lulus. Mungkin itu suatu ekspresi kebahagiaan yang ia rasakan setelah berhasil melewati sebuah perjuangan panjang dan melelahkan. Kalau dicermati, masalah dan kesulitan yang dihadapi teman-teman dan juga saya sendiri selama mengerjakan TA memang macem-macem, beragam, dan warna-warni. Maka, wajar saja kalau kelulusan menjadi sesuatu yang sangat-sangat membahagiakan. Lho, tapi kok nangis? Ya, menangis memang tidak selalu karena penderitaan. Kita juga justru akan menangis (haru) saat menemui episode kehidupan yang sangat membahagiakan. Seperti, kelulusan tadi misalnya. Atau, pada saat akhirnya seseorang diresmikan sebagai pasangan hidup dari pujaan hatinya. Menangis yang seperti ini, biasanya justru sangat indah. Sampai-sampai ada yang bilang: the tears that she cried in my wedding day, were astonishingly beautiful. Ini cuma kata-kata dari dorama jepang yang akhir-akhir ini sering saya tonton. =P
***
Gara-gara melihat mahasiswa baru yang lagi ngikutin ospek, saya juga jadi ingat peristiwa 2 tahun yang lalu. Ini tentang nangis juga, tapi beda.
Dua tahun lalu, saya ikut jadi panitia kegiatan ospek fakultas untuk mahasiswa baru. Acaranya 3 hari, dan tiap malam saya nginep. Dua malam di rumah teman SMA yang kebetulan ikut jadi jurnalis independen di acara itu, dan malam terakhir nginep di kost teman sesama panitia. Sampai nginep, kok niat banget??? Lha yo, kalau nggak nginep berarti saya harus berangkat dari rumah sebelum shubuh, karena panitia harus stand by di lokasi acara dari jam 5 pagi. Tidak...! Bisa rusak badanku kalau harus pergi sebelum shubuh dan pulang malam naik motor bolak-balik 2x45 menit tiap hari selama 3 hari berturut-turut dengan kegiatan siang hari yang cukup melelahkan. Jadi menurut saya, menginap adalah sebuah pilihan cerdas pada waktu itu. Siip! =P
Terus, nangisnya mana? Nggak jadi ah ceritanya. Yang jelas pada malam terakhir –waktu naik motor menuju kost temanku, saya menangis di jalan pulang. Saya menangis sebagai seorang laki-laki! Untung sudah malam. Dan pakai slayer...

***
dadank, masih menunggu dosen pembimbing balik dari jepang.
Pak, kapan pulang....?
(nggak pake nangis...)

15 August 2008

Atmosfer Perpisahan

Hmm, hampir dua bulan tanpa postingan sama sekali! Baiklah, sebagai bukti saya masih menyayangi blog ini, kali ini saya mau bikin postingan lagi. Walaupun –seperti biasa, postingan ini lagi-lagi hanya akan menjadi postingan yang sangat personal. Hehe...


Yang lumayan sering tercerapi belakangan ini...

Empat tahun yang lalu, atas kuasa-Nya, tiba-tiba dengan begitu saja kita dipertemukan. Motivasi, dan impian-impian yang membuat kita dipertemukan di sini, biarlah tersimpan rapi di kepala dan hati kita masing-masing. Karena apapun motivasi dan impian-impian itu, pada akhirnya kita memang harus melewati tahapan demi tahapan itu bersama-sama.


Lalu, dimulailah proses saling mengenal, melakukan aktivitas bersama, mengerjakan tugas kuliah bersama, juga main bersama. Tugas demi tugas, dan aktivitas demi aktivitas yang harus dijalani memang sangat melelahkan. Kadang-kadang memunculkan
gerundelan. Bahkan tangisan, pertengkaran, ketidakpuasan... Sudahlah, itu hanya sesendok bumbu penyedap kebahagiaan dan keharuan yang kita sama-sama rasakan. Semua yang pernah kita jalani tersebut, pada akhirnya melahirkan rasa saling pengertian dan rasa maklum yang melahirkan ungkapan, “iya, dia kan orangnya memang seperti itu...”, tanpa sedikitpun rasa sinis atau benci. Yang ada hanya rasa maklum dan mengerti seperti keluarga.

Dan akhirnya, kita akan tiba pada hari yang biasa, pada suatu masa yang telah lama kita ketahui (
hehe, pinjem puisinya Gie =P ). Hari dimana kita akan berpisah satu sama lain. Menempuh jalannya sendiri-sendiri, dan mengejar takdirnya masing-masing. Sukses selalu kawan-kawan. Semoga saling mendoakan diantara kita, akan mempermudah langkah-langkah kita di jalan masing-masing. Kangmas mbakyu... Ditunggu, kontribusinya untuk bangsa... =P


***

dadank yangbelumlulus,
on melancholic side...

07 May 2008

Seminar KP


Seminar KP (Kerja Praktek) Teknik Industri,
besok Jumat 9 Mei 2008 jam 11.00 di ruang M6 (di publikasi masih ditulis M1) JTMI.

Menampilkan:
1. PT Badak NGL
2. PT Chevron Indonesia Company
3. PT Chevron Pacifik Indonesia
4. PT Coca Cola Bottling Indonesia
5. PT Djarum
6. PT Mega Andalan Kalasan
7. PT Mekar Armada Jaya
8. PT Sari Husada
9. PT Sinar Sosro
10. PT Total E&P


Seperti biasa, gratis dan ada makan siang... :)
So, jangan lupa buat pada datang dan meramaikan acara ini.
Dan --yang paling penting, jangan lupa tanda tangan kehadirannya (17 kali! lho... ^^)

20 April 2008

Jumat Sore

Rasanya wajar kalau kadang-kadang kita rindu sama hal-hal yang sudah lama tidak kita lakukan. Saya juga mengalaminya. Bagus sih. Jum’at siang kemarin, Iskandar a.k.a Pak Is mengirim pesan lewat SMS:
“...km msh ikt kajian2? Aq dah lama sekali gak ikut. Tau jadwal2 kajian? Aq rindu...dst

Eh, ternyata sama. Saya sudah lama (banget) gak ikut kajian-kajian di lingkungan kampus. Ya kebetulan, waktu itu saya lagi di jurusan, langsung saja saya balas:
Biasanya tiap jumat sore, di maskam ada. Kalo mau, ntar ashar ketemuan di sana?”

Sebenarnya, saya juga gak tau pasti sekarang masih ada atau gak. Sudah lama saya gak update sama kegiatan-kegiatan di sana. Tapi, kalaupun misalnya ternyata gak ada, kan bisa diganti dengan ngobrol-ngobrol sambil menikmati sore hari di sana. Menurut saya, maskam (masjid kampus) memang salah satu tempat di kampus yang suasana sorenya cukup indah. Ramai orang-orang tapi tetap memberi ketenangan.

Iskandar setuju... Eh, ternyata dia lagi di rumah, lagi seneng-senengnya main sama keponakannya yang baru beberapa bulan. Cowok. Kalau gak salah, namanya Fatihul Aufa. Lagi lucu-lucunya katanya. Ya, asal jangan terus desire to have children. Hehe.. Jangan sekarang maksudnya.

Seperti biasa, ashar di maskam jama’ahnya cukup ramai. Setelah ashar, belum ada tanda-tanda kalau bakal ada kajian. Sambil menunggu, kita ngobrol-ngobrol. Sesuai plan B lah. Dalam obrolan itu, dengan sangat meyakinkan, Iskandar mempromosikan film “The Secret” yang dia bawa. Katanya bagus dan bikin semangat. Terus, sempat saya tonton sedikit pas di bagian prolognya yang memang bikin penasaran. Ternyata film itu dari buku “The Secret”. Belum baca sih bukunya, tapi di Togamas dan Social Agency, buku itu jadi best seller. Karena begitu mudahnya diprovokasi dipersuasi, akhirnya saya rela mengeluarkan motor, melaju ke kopma, beli dua keping CD dan kembali lagi ke maskam. Pengin juga nge-copy film itu. Hah, pembajakan di dalam masjid. Kejahatan kuadrat!!! Eit, tunggu dulu. Ini bukan pembajakan. Di film itu gak ada copy warning-nya kok. Sepertinya film ini memang dibuat untuk promosi bukunya. (Sebuah pembenaran yang agak dipaksakan. Tapi cukup meyakinkan... :p )

Kajian pun dimulai (rupanya memang ada kajian). Pembicaranya ust. Abu Ayyub (baru sekali ini ikut kajian beliau). Materinya Kitab Tauhid. Sudah sampai bab 9! Salah satu yang dibahas secara cukup panjang adalah Surat Al-An’aam (162) :
“Katakanlah: ‘Sesungguhnya, shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku, hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam...”
Penyampaian materinya sangat lugas dan meyakinkan. Saya lihat, yang hadir memang tidak terlalu banyak. Sekitar duapuluhan orang. Tapi saya perhatikan, mereka sangat tekun mendengarkan. Gak ada yang tampak mengantuk, gelisah duduknya, bikin coret-coretan di kertas, mainan HP, apalagi cekikikan atau ngobrol sendiri. Paling cuma saya yang kadang-kadang malah celingukan memperhatikan sekian orang yang hadir di sana. Hehe... :p

Materi yang disampaikan selama kurang lebih satu jam itu, cukup membangunkan kesadaran untuk kembali meluruskan orientasi diri. Paling tidak, memberi secercah kesadaran untuk saya yang sedang membaca dan mencermati sisi gelap diri.

Selain kajian, sore itu juga ada persaksian seorang mu’allaf yang mengucap dua kalimat syahadat. Di akhir acara, si bapak itu menceritakan sedikit perjalanan hidupnya sampai akhirnya berganti keyakinan. Bukan kali ini saja mengikuti persaksian semacam itu, tapi selalu saja ada keharuan setiap mendengarkannya. Sekali lagi, saya diingatkan. Betapa besar nikmat-Nya yang ada pada diri ini.

***
Film The Secret (menurut saya) ternyata cenderung membosankan. Padahal, prolognya sudah bikin penasaran: gulungan kertas yang katanya berisi “The Secret” diperebutkan, dibawa lari, dikejar-kejar pasukan Mesir, terus dikubur, dicuri, berpindah tangan dst... Muncul nama tokoh-tokoh dunia seperti Plato, Shakespeare, Newton, Beethoven, Lincoln, Einstein, dsb. Selebihnya, berisi ceramah kesaksian disertai sedikit ilustrasi dari orang-orang yang katanya mengetahui ‘rahasia’ yang tidak pernah dipublikasikan itu. Sepanjang film bertaburan pesan-pesan positif ala buku-buku motivasi.

18 February 2008

Semester 8


Beginilah. Sudah semester 8. Semoga menjadi semester terakhirku di kampus ini. Dalam arti, akhir semester ini bisa lulus dari kampus tercinta ini. Amiin... (diucapkan dengan sungguh-sungguh, sambil berharap agar malaikat-malaikat ikut mengamininya.)

Kalau ngomongin atau sekedar mikirin kata ‘lulus’ ini, selalu saja terbayang dunia di luar sana. Sebuah dunia yang belum benar-benar aku mengerti. Ada yang menyebutnya sebagai ‘dunia nyata’. Lha, memangnya di kampus itu bukan dunia nyata? Tentu saja yang dimaksudkan bukan seperti itu. Maksudnya, ketika lulus nanti aku akan berhadapan dengan sebuah dunia yang baru. Sebuah wilayah dimana aku harus mempertemukan (jw: nggathukke) teori-teori yang kudapat di kampus dengan kenyataan di lapangan. Juga mengaplikasikan metode-metode dan cara berfikir ilmiah yang sudah kupelajari, untuk menemukan dan menyelesaikan masalah-masalah di ‘dunia nyata’ itu tadi.

Semester 8 ini punya arti yang sangat penting untuk mempersiapkan itu semua. Yang pertama, tentu saja karena semester ini adalah semester untuk menghabiskan sisa SKS sebelum lulus. Merampungkan skripsi, membereskan KP (buat yang belum KP, seperti aku ini), dan ada juga yang mengulang beberapa mata kuliah –entah untuk mengejar predikat cum laude, menurunkan IPK (memang ada?), atau karena memang masih ada mata kuliah yang mengharuskan untuk diulang.

Yang kedua, inilah kesempatan untuk memantapkan kompetensi inti yang harus dimiliki oleh seorang Industrial Engineer –yang seharusnya merupakan akumulasi dari apa-apa yang diperoleh dari awal kuliah dulu, dan juga kecakapan-kecakapan yang dibutuhkan seseorang untuk menghadapi hidup –yang merupakan akumulasi dari apa-apa yang aku dapatkan sampai hampir berumur 22 tahun sekarang ini.

Yang ketiga, semester ini adalah awal dari sebuah perpisahan. Perpisahan dengan kampus dan dunia kampus. Dengan perkuliahan di kelas, dengan tugas-tugas kelompok yang menyenangkan sekaligus melelahkan, dan juga dengan teman-teman satu angkatan yang saya cintai dan dosen-dosen yang saya banggakan. Soal perpisahan dengan teman-teman satu angkatan ini, beberapa waktu yang lalu anak-anak TI 2004 ngadain foto angkatan (lagi). Rencananya, mau bikin buku angkatan...


Yang terakhir, selain sebagai awal sebuah perpisahan tentunya juga sebagai awal sebuah perjalanan. Perpisahan dengan dunia kampus tentunya juga merupakan awal dari perjalanan baru (sebenarnya lanjutan dari perjalanan sebelumnya) dengan porsi tanggung jawab yang lebih besar. Tanggung jawab yang lebih besar terhadap kehidupanku sendiri. Belum lagi sebagai seorang laki-laki. Seorang laki-laki, pada saatnya nanti akan menanggung seseorang dengan hidupnya. Dan bahkan dengan hidup setelah matinya. Sehingga misalnya saja kedapatan tidak bertanggungjawab (dalam keamanan, kelangsungan hidup,perasaan, dsb...), maka ia harus bersiap-siap menanggung murka dari Tuhannya. Gak ringan to? Tapi tetep aja jadi sunnah nabi paling favorit nomer satu di dunia. :) Kembali ke masalah tanggung jawab tadi, tanggung jawab tentu saja butuh keberanian. Berarti, tanggung jawab yang lebih besar membutuhkan keberanian yang lebih besar juga.

Semester delapan. Ternyata sudah tiga setengah tahun aku di kampus ini...

05 February 2008

Stay being good friends


You said, “...stay being good friends.”
OK. Don’t worry.


***
Letto : Permintaan Hati

Get this widget | Track details | eSnips Social DNA


Mungkin lagi terpengaruh Pak Titis sama Tejo yang masang musik di postingan blog.
Lagu ini, video klipnya cukup unik. Memakai captioning dengan alur flash forward yang tidak biasa.
Ceritanya, seorang perempuan datang dari masa depan untuk membunuh seorang laki-laki. Atau kalau dari sudut pandang si perempuan, ia kembali ke masa lalu, dimasa sebelum mereka (ia dan laki-laki itu) belum pernah bertemu. Ia ingin membunuhnya karena alasan yang diceritakan dengan alur flash forward dalam video klip ini. Kembali ke masa lalu dan merubah sesuatu, mengingatkan pada film The Butterfly Effect.

Ternyata...
Si perempuan, gak physically going back. Just her thought.
Si laki-laki, got the message.

30 January 2008

KKLnya satu hari, liburannya dua hari

Tanggal 22 sampai 26 Januari kemarin ini, anak-anak (sebenarnya sudah gak pantes disebut anak-anak) TM&TI 2004 ngadain Kunjungan Kerja Lapangan (KKL) ke Surabaya-Bali. Seharusnya ini adalah acara satu angkatan. Cuma akhirnya gak semua bisa ikut. Ada yang memang dari awal sudah gak berminat. Ada yang terpaksa gak bisa ikut karena harus ikut lECOM di Bandung. Ada juga yang tiba-tiba batalin diri dan dengan ikhlas hati harus tetap bayar. Namanya juga kumpulan orang banyak. Urusan dan kepentingan yang muncul, tentu saja bisa sebanyak jumlah kepala di dalamnya. OK, setelah melalui proses yang agak ribet dan sempat terancam batal, akhirnya berangkat juga… Satu bus, 44 anak, 2 dosen dan sejumlah kru.


Satu hari kunjungan
Dua perusahaan di pulau Jawa akhirnya jadi tujuan kunjungan. Indofood di Pasuruan dan PJB Paiton di Probolinggo. Di Indofood, rombongan disambut dengan hangat. Salah satu petinggi di sana (sampai lupa namanya) menyambut rombongan, kurang lebih seperti ini, “…terima kasih telah menyempatkan mampir ke perusahaan kami, karena saya tau persis bahwa tujuan utama adik-adik sekalian adalah ke pulau Bali.” Semua tertawa, seolah kami mengiyakan perkataan Bapak tadi. Tau aja Bapak itu…
Di PJB Paiton, berlangsung diskusi yang sangat menarik tentang kondisi kelistrikan di Indonesia. Tentang batubara kualitas tinggi yang dijual ke luar negeri. Tentang sulitnya berurusan dengan masyarakat dalam membangun jaringan transmisi. Tentang nuklir. Tentang surya cell. Tentang kecilnya anggaran penelitian di perguruan tinggi, dll…


Dua hari di Bali, apa yang bisa diceritakan?
Pemandu wisata yang…
Pemandu wisata waktu itu, seorang ibu-ibu. Namanya Ni Wayan… siapa gitu. Ibu itu sering cerita yang ‘aneh-aneh’ . Sebenarnya gak aneh juga ding, cuma porsinya aja yang berlebihan. Awalnya anak-anak kelihatan sangat tertarik. Ketawa-ketawa atau cukup senyum-senyum. Tapi lama-lama pada bosan juga. Habisnya semakin lama semakin gak jelas. Untungnya, Ibu itu tetap menjalankan tugas sebagaimana mestinya. Menjelaskan tentang lokasi-lokasi yang dikunjungi, mengajari sedikit bahasa Bali, dan menceritakan kepercayaan, sejarah dan kehidupan orang Bali. Itu baru…


Main-mainnya
Di Tanjung Benoa, naik glass bottom ke pulau Penyu. Melihat dan ngasih makan ikan-ikan di laut, terus foto-foto bareng Penyu. Kedengaran kurang menarik ya? Tapi, saya sendiri menikmatinya waktu itu. Banyak yang nyobain parasailing dan watersport lain. Yang ini jelas lebih menantang. Seru, kata mereka. Pengin juga sih, tapi mahal.
Lalu, di Garuda Wisnu Kencana (GWK) yang tempatnya sangat indah itu, sangat mudah ditebak apa yang dilakukan di sana. Ya betul 100%, foto-foto! Tempat ini memang sangat indah. Patung GWK yang belum jadi, lembah yang dikelilingi bukit kapur yang dipahat, rumput hijau dan tangga batu yang eksotis, orang-orang yang kelihatan kecil dari atas bukit. Looks beautiful…
Kuta adalah tempat paling ramai yang dikunjungi. Pantainya panjang, berpasir putih, ombak lumayan tinggi, sangat ramai dan waktu itu sedang ada upacara Galungan. Sepanjang jalan banyak cafĂ© dan tempat hiburan. Turis asing paling banyak ditemui di sini. Di Kuta kemarin itu, cuma main-main air. Tapi sejujurnya sangat menyenangkan… ;)
Di Bedugul yang udaranya adem khas pegunungan, nyobain perahu dayung di danau. Di tengah-tengahnya suasana begitu damai. Percik air dingin, kabut tipis, angin lembut, bau hujan…

Trauma naik Komotra
Bagi sebagaian kami, pengalaman yang sangat tidak menyenangkan saat di Bali kemarin adalah saat naik Komotra. Komotra adalah mode angkutan wisatawan yang mirip angkot (apa memang sama), dari Central Parkir Kuta ke pantai dan sebaliknya. Waktu pulang dari pantai, penumpang ditumpuk-tumpuk seperti barang. Plus dikasih bonus: dimarah-marahi! Seolah, wisatawan domestik memang diperlakukan sebagai wisatawan kelas dua di sana. Ah, sudahlah…


Masih ada lagi yang kuingat dari dua hari di Bali kemarin itu. Patung-patungnya yang pakai celana atau sarung kotak-kotak hitam putih (patung we kok dikathoki?). Anjing-anjing di jalan-jalan malam kota Denpasar. Masjid yang penuh sesak waktu sholat Jumat di Kuta waktu itu... OK, cukup. Boleh juga lain kali ke sana lagi. Lewat jalur yang berbeda dan mungkin, tujuan yang berbeda juga.
Pertanyaan penting setiap pulang dari jalan-jalan: apa oleh-olehnya? Oleh opo le melaku-melaku? Jawabannya penting untuk meneruskan le melaku, ‘melanjutkan laku’

11 November 2007

TKI 3602 : Bukan Praktikum Biasa

Perhelatan akbar (sebut saja demikian, semoga tidak ada yang keberatan) Praktikum Teknik Industri 2007, Senin ini sudah mulai digelar. Kurang lebih enam minggu ke depan, anak-anak TI’05 akan mendapat tambahan kesibukan keluar masuk lab Ergo, Simul dan Sispro sebagai praktikan mata kuliah berkode TKI 3602 ini. 
 
Tahun ini, Praktikum yang melibatkan tiga lab ini mengambil tajuk: ”Praktikum Teknik Industri 2007, Bukan Praktikum Biasa”. Kelihatan sekali bukan, kalau tajuk ini mencontek judul sebuah film remaja yang menurut kebanyakan orang yang sudah menontonnya, lebih mirip sinetron itu. Tapi tentu saja Praktikum ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan film itu. Juga dengan film-film Indonesia sejenisnya yang posternya jauh lebih bagus dari filmya sendiri itu. Tajuk ini diambil untuk menyampaikan kepada praktikan bahwa praktikum ini berbeda dan tidak biasa. Terus letak ’berbeda’ atau ’tidak biasa’nya dimana? Ikuti saja praktikumnya, dan rasakan sendiri akibatnya bedanya. Hehe.. Untung saja kemarin kami tidak kepikiran untuk meniru sebuah iklan di televisi sebagai tajuk praktikum ini. Bisa-bisa tajuknya jadi begini: ”Praktikum Teknik Industri 2007, Beda Rasanya”. Oh, tidak...

Praktikum ini melibatkan keilmuan di tiga dari empat konsentrasi bidang Tugas Akhir di TI UGM: Operations Research untuk praktikum simulasi, Production untuk praktikum sistem produksi, dan Ergonomics/Human Factors untuk praktikum ergonomi. Sementara untuk konsentrasi keempat, Manufacturing Processes and Systems, praktikumnya terintegrasi dengan matakuliah Teknik Manufaktur dan Proyek di semester 2. Praktikum akan dilakukan dalam dua tahap. Praktikum mandiri masing-masing lab dan praktikum integrasi ketiga lab. Masing-masing lab mempunyai materi, sistem praktikum dan penilaian sendiri-sendiri. Setelah seluruh rangkaian praktikum termasuk praktikum integrasi berakhir, nilai dari ketiga lab akan digabungkan untuk mendapatkan nilai matakuliah Praktikum Teknik Industri dengan bobot 3 SKS. 
 
Akhirnya, buat rekan-rekan ’penunggu’ lab: Ganbatte! Kita sukseskan ”Bukan Praktikum Biasa” tahun ini. Buat adik-adik teman-teman praktikan: Chaiyo! Jaga kesehatan biar gak jatuh sakit dan rasakan bedanya. Satu lagi yang penting, seperti pesan Pak Bagyo pada pengantar briefing Sabtu kemarin, ”Jangan main-main dengan praktikum ini, karena praktikum ini dirancang bukan untuk main-main”.

30 October 2007

Kehidupan Lab Telah Kembali

Setelah hampir dua bulan tidak tampak hiruk-pikuk aktivitas asisten-asisten tiga lab di TI (Simulasi, Sistem Produksi, dan Ergonomi), minggu-minggu ini keramaian itu mulai terlihat dan terasa lagi. Mereka yang KP telah kembali ke kampus. Yang belum KP, alhamdulillah juga masih tetap setia di kampus. Wajah-wajah itu telah kembali dengan membawa (kelihatannya) semacam rasa percaya diri yang baru. Ya, saya harap memang benar begitu. Dan yang lebih penting, kembalinya mereka membuat aktivitas lab menjadi semarak kembali. Menjadi ramai lagi.

Keramaian itu juga yang terasa waktu rapat bersama, asisten tiga lab hari Minggu kemarin. Rapat itu serasa seperti piknik keluarga saja. Banyak yang hadir, ada banyak makanan, udara dingin (AC di lab ergo memang masih OK!), dan juga... rumpian khas arisan ibu-ibu! Memang, dari tiga lab di TI, hanya lab Simul lah yang punya komposisi dimana laki-laki menjadi mayoritas, lima berbanding satu. Ergo? Hanya dua cowok dari enam asisten. Sispro? Apalagi. Satu berbanding empat! Bisa dibayangkan apa yang terjadi saat asisten dari ketiga lab yang didominasi oleh mahasiswi dalam mode ibu-ibu itu berkumpul dan membicarakan sesuatu. Pasti ada yang tidak mungkin terlewatkan. Ya benar, rumpian-rumpian a la arisan yang kadang-kadang gak jelas dan gak penting. Tapi, sejujurnya itu menyenangkan. Hehe.. sami mawon ;) Dan alhamdulillah, walaupun berjalan dengan riuh dan cenderung ribut, rapat dapat merampungkan semua agenda tanpa terjadi kericuhan. Ya, dimanapun, wanita memang tidak menyukai kericuhan, apalagi kerusuhan. Tapi seringkali ia justru menjadi pemicu keributan dan baku hantam kaum lelaki yang kadang-kadang berakhir dengan kerusuhan atau peperangan. Aneh memang...

***
Tak terasa, praktikum tinggal dua minggu lagi. Itu artinya, minggu-minggu ini adalah minggu yang sibuk bagi asisten untuk mempersiapkan segala sesuatu. Terlebih lagi bagi para ’deadliner’. Seperti saya. Yang bahkan sampai detik ini, belum merampungkan modul bagianku. Ayo Dang, modul! modul!

Sebagai aslab, sampai saat ini belum banyak yang saya lakukan buat lab. Padahal, ini adalah kesempatan. Bisa dibayangkan, betapa menyesalnya saya suatu hari nanti seandainya saya menyianyiakan kesempatan saat ini. Kesempatan untuk banyak belajar dan melakukan sesuatu di lab Simulasi tercinta ini. Lagipula ini adalah amanah. Dan saya juga mendapat insentif untuk tugas ini. Betapa menyesalnya saya, seandainya saya termasuk orang-orang yang berdiri dengan wajah tertunduk dibawah bendera besar bertuliskan ”Golongan yang Menyianyiakan Amanah” ketika semua manusia dikumpulkan di padang Mahsyar. Mengerikan juga... Jadi, mumpung kesempatan itu belum sirna, Let’s Do Something!

06 October 2007

Cerita Rabu Siang: dari Sekip sampai Gejayan

Siang itu, tiga orang mahasiswa tampak sedang duduk sambil berbincang-bincang. Seorang mas-mas berambut sedikit ikal, berkacamata; seorang abang-abang berbadan gedhe, berkacamata; dan seorang koh-koh berkulit putih, bermata sipit, juga berkacamata. Mereka bertiga sedang menunggu antrian pembayaran BOP di Bank Mandiri cabang sekip kampus UGM yang kalau parkir motornya di luar area Bank, harus bayar parkir itu.


Mereka mendapat nomor antrian 326, 327, dan 328 dari pak satpam berkumis yang berjaga-jaga di depan pintu masuk. Nomor urut yang dipanggil saat itu, kalau tidak salah nomor 281. Ketiganya lalu duduk di sofa kuning emas yang diletakkan berbaris di depat loket pembayaran. Melihat bahwa di sana tersedia empat server, dan satu antrian, dengan waktu pelayanan rata-rata sekitar satu setengah menitan, tentu mereka dapat memperkirakan bahwa mereka tidak akan menunggu antrian terlalu lama. Syukurlah. Itu artinya, mereka dapat menunggu dengan rileks dan bahagia sambil ngobrol-ngobrol. Hari itu, antrian memang tampak tak sebanyak semester-semester sebelumnya. Mungkin semakin banyak mahasiswa yang memilih melakukan pembayaran lewat ATM. Tidak perlu repot-repot antri.


Ketiganya memang tampak sedikit 'berbeda' dari kebanyakan mahasiswa yang juga sedang mengantri di sana. Mereka sudah kelihatan 'tua'. Maklum, sudah semester akhir. Perbincangan mereka pun tak jauh-jauh dari obrolan standar mahasiswa semester akhir: kondisi terkini IPK, rencana skripsi, dan rencana indah pasca kampus (kerja, karir, dll). Perbincangan sedikit terpotong karena petugas sudah memanggil nomor urut yang ada di tangan mereka secara hampir bersamaan.



Setelah urusan bayar-membayar selesai, mereka tidak segera pulang. Mereka melanjutkan perbincangan di luar. Perbincangan kali ini lebih banyak berisi cerita-cerita dari abang-abang yang baru saja pulang dari KP di sebuah perusahaan softdrink multinasional di Semarang. Abang-abang itu banyak bercerita tentang banyak hal yang dilakukan dan ditemuinya selama sebulan di sana. Cerita yang sangat berguna dan sedikit menghibur. Karena dari ketiganya, baru abang-abang itu yang sudah selesai KP. Si koh-koh, nasib permohonan KPnya masih digantung oleh sebuah perusahaan minyak yang berkantor di Jakarta. Sementara nasib mas-mas itu, sedikit lebih memprihatinkan. Dua kali mengajukan permohonan, dua kali itu pula dia ditolak (hiks..). Satu, di sebuah perusahaan herbal medicine di Semarang. Satu lagi, di perusahaan telekomunikasi di Semarang juga. Rencananya, dia berencana mengajukan lagi untuk yang ketiga kalinya di perusahaan tempat KP abang-abang tadi yang, ya ampun, lagi-lagi di Semarang. Heran. Semarang lagi, Semarang lagi. Embuh kok iki...


Setelah merasa puas dengan perbincangan yang cukup berharga itu, mereka meluncur ke Toga Mas. Toko buku diskon favorit si mas-mas berambut ikal, yang berlokasi di dekat perempatan ringroad Gejayan. sampai di sana mereka segera berpencar menurut minat masing-masing. Koh-koh yang murah senyum itu, tampak sedang asyik membaca majalah olahraga. Sementara mas-mas dan abang-abang itu sedang berada di stan buku-buku best seller. Abang-abang itu sempat meminta saran kepada si mas-mas mengenai buku yang pasmilad buat ehm..ehm.. pujaan hatinya yang juga teman mereka di kampus. Seseorang yang mengisi rencana-rencana indah abang-abang itu. Seseorang yang mungkin, namanya selalu terselip dalam do'a-do'anya. Seseorang yang sepertinya membuat abang-abang itu tampak lebih ceria belakangan ini.. Iya gak sih? Gak usah nebak-nebak ah... untuk hadiah


Setelah memberi saran beberapa judul buku, dan sepertinya tidak ada yang dipilih oleh abang-abang itu, mas-mas berambut ikal itu segera menuju bagian sastra dan mencari buku yang dicarinya sambil membaca-baca buku lain yang ditemuinya. Akhirnya buku itu ketemuEmha Ainun Nadjib. Trilogi: Do'a Mencabut Kutukan, Tarian Rembulan, Kenduri Cinta. juga. Buku kumpulan puisi

--------