Walaupun sudah 3 minggu film Laskar Pelangi tayang di bioskop, rupanya antrian tiketnya masih tetap saja rame dan panjang. Terimakasih buat iskandar dan budhi yang pagi-pagi sudah rela untuk antri sekitar 2 jam. Alhamdulillah ngantrinya sukses, sehingga tidak berujung dengan kalimat yang membuat hati iba seperti: “Uhh, udah capek-capek ngantri 3 jam, ternyata tiketnya habis!”.
Filmnya...
Seperti novelnya, film Laskar Pelangi bercerita tentang sebuah ironi. Tentang anak-anak dari keluarga kurang mampu di salah satu pulau terkaya di Indonesia (karena tambang timahnya) yang berjuang untuk tetap bersekolah di sebuah sekolah dasar yang kondisi bangunan dan fasilitasnya sungguh memprihatinkan. Bangunan sekolah dari papan yang hampir roboh dan beratap seng yang setiap kali hujan kelas selalu kebanjiran dan bahkan jadi tempat kambing-kambing berteduh. Kondisi yang sangat kontras dengan sekolah tetangga milik PN Timah. Kekontrasan ini beberapa kali dimunculkan dalam film ini.
Seperti novelnya, film Laskar Pelangi bercerita tentang sebuah ironi. Tentang anak-anak dari keluarga kurang mampu di salah satu pulau terkaya di Indonesia (karena tambang timahnya) yang berjuang untuk tetap bersekolah di sebuah sekolah dasar yang kondisi bangunan dan fasilitasnya sungguh memprihatinkan. Bangunan sekolah dari papan yang hampir roboh dan beratap seng yang setiap kali hujan kelas selalu kebanjiran dan bahkan jadi tempat kambing-kambing berteduh. Kondisi yang sangat kontras dengan sekolah tetangga milik PN Timah. Kekontrasan ini beberapa kali dimunculkan dalam film ini.
Tapi beruntung, sekolah yang minim fasilitas itu memiliki Pak Harfan dan Ibu Muslimah. Guru yang sangat berdedikasi. Yang mengajarkan anak didiknya untuk berani bercita-cita. Yang menjadikan pendidikan agama dan budi pekerti bukan sekedar pelengkap pelajaran di sekolah.
Lintang
Cerita tentang Lintang adalah cerita tentang bakat dan cita-cita yang harus pupus diterkam oleh realita. Lintang adalah seorang anak yatim pesisir yang cerdas dan berbakat. Ia pandai berhitung dan sempat membawa sekolahnya juara lomba cerdas cermat. Ia juga anak yang berkemauan kuat. Ia rajin membaca buku-buku dan selalu berusaha datang paling pagi ke sekolah biarpun rumahnya yang paling jauh dan setiap pagi harus bersepeda melewati jalan yang jadi tempat berjemur buaya. Sayangnya, Lintang yang berbakat itu harus putus sekolah saat ayahnya –yang seorang nelayan, meninggal dan ia harus menggantikan peran ayahnya untuk menghidupi dan membesarkan ketiga adiknya. Bakat dan kecerdasan luar biasa itu pun harus terpisah jauh dari sekolah dan didikan guru seperti tunas kecil yang harus terpisah dari tanah dan siraman air. Sebuah ironi yang lain...
Cerita tentang Lintang adalah cerita tentang bakat dan cita-cita yang harus pupus diterkam oleh realita. Lintang adalah seorang anak yatim pesisir yang cerdas dan berbakat. Ia pandai berhitung dan sempat membawa sekolahnya juara lomba cerdas cermat. Ia juga anak yang berkemauan kuat. Ia rajin membaca buku-buku dan selalu berusaha datang paling pagi ke sekolah biarpun rumahnya yang paling jauh dan setiap pagi harus bersepeda melewati jalan yang jadi tempat berjemur buaya. Sayangnya, Lintang yang berbakat itu harus putus sekolah saat ayahnya –yang seorang nelayan, meninggal dan ia harus menggantikan peran ayahnya untuk menghidupi dan membesarkan ketiga adiknya. Bakat dan kecerdasan luar biasa itu pun harus terpisah jauh dari sekolah dan didikan guru seperti tunas kecil yang harus terpisah dari tanah dan siraman air. Sebuah ironi yang lain...
Film ini bertambah menarik dengan banyaknya kelucuan dan kepolosan anak-anak yang menyegarkan sepanjang film.
***
Asumsi saya, penonton film ini –yang harus mengeluarkan 20 ribu untuk untuk membeli tiket, bukanlah orang-orang yang hidup dalam keterbatasan seperti anak-anak di Laskar Pelangi. Jadi, setelah menonton film ini sangat mungkin kita akan tergerak semangatnya untuk lebih sungguh-sungguh dalam mengerjakan hidup kita masing-masing. Anak-anak yang hidup dalam keterbatasan saja punya semangat yang luar biasa, apalagi kita yang dikelilingi dengan berbagai fasilitas dan kemudahan. Selain itu, film ini juga membuka mata kita bahwa pendidikan adalah sektor yang harus menjadi prioritas dalam pembangunan bangsa ini.
Asumsi saya, penonton film ini –yang harus mengeluarkan 20 ribu untuk untuk membeli tiket, bukanlah orang-orang yang hidup dalam keterbatasan seperti anak-anak di Laskar Pelangi. Jadi, setelah menonton film ini sangat mungkin kita akan tergerak semangatnya untuk lebih sungguh-sungguh dalam mengerjakan hidup kita masing-masing. Anak-anak yang hidup dalam keterbatasan saja punya semangat yang luar biasa, apalagi kita yang dikelilingi dengan berbagai fasilitas dan kemudahan. Selain itu, film ini juga membuka mata kita bahwa pendidikan adalah sektor yang harus menjadi prioritas dalam pembangunan bangsa ini.
*foto dari [ sini ]
[dadang]
pendidikan adalah tangga kehidupan.
pendidikan adalah tangga kehidupan.


