Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

30 April 2008

Ulat Buku dan Laron



Suatu malam di perpustakaanku
Seekor ulat buku berkata pada laron, begini:
”Aku telah lama tinggal dalam buku tebal Ibn Sina
Dan banyak menghabiskan naskah al-Farabi
Namun aku tak memperoleh apa-apa
Tentang rahasia hidup,
Dan tetap dalam kegelapan
Seperti sebelum ini.”
Laron separuh terbakar memberi jawaban tulus:
”Kau tak akan mendapatkan rahasia hidup
Diterangkan dalam buku-buku.
Sekalipun begitu, ini kusampaikan:
Yang membuat hidup penuh kedahsyatan
Adalah keasyikan
Dipinjami sayap olehNya
Maka hidup pun terbang.”

(Ulat Buku dan Laron, Muhammad Iqbal)


*Sebagai pengingat untuk diri saya.
Yang semakin abstrak dan makin berjarak dengan kenyataan...

28 February 2008

Selamat Pagi Indonesia

selamat pagi, Indonesia, seekor burung mungil mengangguk
dan menyanyi kecil buatmu.
aku pun sudah selesai, tinggal mengenakan sepatu,
dan kemudian pergi untuk mewujudkan setiaku padamu dalam
kerja yang sederhana;
bibirku tak biasa mengucapkan kata-kata yang sukar dan
tanganku terlalu kurus untuk mengacu terkepal.

selalu kujumpai kau di wajah anak-anak sekolah,
di mata para perempuan yang sabar,
di telapak tangan yang membatu para pekerja jalanan;
kami telah bersahabat dengan kenyataan
untuk diam-diam mencintaimu.
pada suatu hari tentu kukerjakan sesuatu
agar tak sia-sia kau melahirkanku.

seekor ayam jantan menegak, dan menjeritkan salam
padamu, kubayangkan sehelai bendera berkibar di sayapnya.
aku pun pergi bekerja, menaklukan kejemuan,
merubuhkan kesangsian,
dan menyusun batu-demi batu ketabahan, benteng
kemerdekaanmu pada setiap matahari terbit, o anak jaman
yang megah,
biarkan aku memandang ke Timur untuk mengenangmu
wajah-wajah yang penuh anak-anak sekolah berkilat,
para perepuan menyalakan api,
dan di telapak tangan para lelaki yang tabah
telah hancur kristal-kristal dusta, khianat dan pura-pura.

Selamat pagi, Indonesia, seekor burung kecil
memberi salam kepada si anak kecil;
terasa benar : aku tak lain milikmu


Sapardi Djoko Damono (1965)

03 January 2008

mencintai dengan sederhana...















AKU INGIN
Sapardi Djoko Darmono

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada



***
Untuk cara mencintai yang begini 'hebat', mengapa penulisnya menyebutnya sebagai 'mencintai dengan sederhana' ya?
zwiing...
zwiing...

05 November 2007

Hujan

Sekali lagi
Hujan mengalirkan pikiran bahagia
Yang dirudung sepi, jenguklah hatinya
Yang dikurung sunyi, sapalah jiwanya

Lagi numpang di lab ergo, 5 november 2007 pk.16:59 ; di luar lagi hujan


26 September 2007

Memberi ruang untuk puisi

Ada banyak puisi yg menurutku bagus dan inspiring. Saya memang bukan pencinta puisi yang bener-bener dong dan mengerti betul jenis sastra yang satu ini, tapi setidaknya saya bisa menikmatinya. Untuk beberapa puisi saja sebenarnya. Mungkin karena jiwa puitis (apaan ini...) saya sendiri memang selama ini kurang mendapat perhatian. Tapi saya pikir gak ada salahnya, kalau mulai sekarang sedikit memberi perhatian dan ruang untuk salah satu sarana pelembut hati ini. Saya pikir dalam diri saya (juga dalam diri setiap orang) memang ada jiwa puitis atau apapun lah namanya, yang bisa terasah asalkan diberi perhatian. Jadi, saya berharap hal ini tidak sia-sia, karena saya tidak sedang memberi perhatian kepada sesuatu yang tidak ada. Makanya, saya ingin sekali mengumpulkan puisi-puisi yang saya anggap bagus di blog ini.

Oiya, selama ini saya menyukai puisi-puisinya Taufik Ismail dan Emha Ainun Nadjib. Salah satu puisi yang cukup inspiring bagi saya adalah puisinya Taufik Ismail di bawah ini. Lain kali diposting puisi-puisi yang lain.


Kerendahan Hati
Taufik Ismail

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,
yang tumbuh di tepi danau

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang
memperkuat tanggul pinggiran jalan

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang
Membawa orang ke mata air

Tidaklah semua menjadi kapten
tentu harus ada awak kapalnya...
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi
rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu...
Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri