Showing posts with label Sekitar kita. Show all posts
Showing posts with label Sekitar kita. Show all posts

05 February 2011

Passion

          
        


Melakukan apapun, kalau tidak dengan sepenuh hati (bahasa militernya, elek-elekan) justru akan membuatmu semakin menderita. Seperti halnya bekerja tanpa passion ataupun beribadah tanpa khusyu'. Lapangan hijau ini menjadi saksinya.

I want, by understanding myself,
to understand others.
I want to be all
that I am capable of becoming...
This all sounds
very strenuous and serious.
But now that I have wrestled with it,
it's no longer so.
I feel happy - deep down
All is well.

(Katherine Mansfiled)

*Sedang berusaha menghadirkan kembali  passion dalam bekerja.

picture: lapangan hijau tempat jungkir balik, PUSDIKHUB TNI AD, Cimahi.

12 December 2008

Berubahlah untuk Maju!

Harus kita sadari
Perubahan tak datang sendiri
Berubahlah untuk maju
...
*) potongan jingle iklan sebuah produk susu di TV

Sudah menjadi keyakinan atau paling tidak pengetahuan bagi banyak orang –termasuk saya juga, bahwa perubahan besar bisa berawal dari hal-hal kecil (yang dimulai dari diri sendiri dan saat ini juga. 3M-nya aa’, hehe...). Yang menjadi pertanyaan adalah apakah pengetahuan dan keyakinan itu sudah secara konsisten (atau istiqomah, kalau dalam istilah agama) dikonkretkan dalam amal nyata? Dan kalau belum, mengapa sampai terjadi inkonsistensi itu? Salah satu jawaban yang bisa ditawarkan adalah bahwa banyak orang –sekali lagi termasuk saya juga, yang terjangkiti ekspektasi instan.

Orang mengharapkan untuk segera memanen hasil dari apa yang sudah ia lakukan itu secepat mungkin. Kalau perlu, hasil sebesar-besarnya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Dan apa yang terjadi kalau perubahan yang diharapkan itu tak kunjung datang (atau sebenarnya datang/terjadi tetapi secara gradual sehingga tidak dapat dirasakan oleh kesadaran orang yang mempunyai ekspektasi instan)? Ya betul, yang terjadi kemudian adalah inkonsistensi itu tadi. Segala sesuatu yang pada awalnya kita kerjakan dengan penuh semangat lalu berhenti di tengah jalan karena perubahan yang diharapakan secepatnya datang itu tak kunjung hadir. Padahal, segala sesuatu memang butuh proses. There’s no shortcut to heaven.

Ekspektasi instan semacam itu tidak jarang juga terjadi saat kita mengikuti training-training atau pelatihan singkat. Misalnya saja ada ‘training sehari melejitkan spiritualitas’ dsb. Jangan pernah mengharapkan bahwa begitu keluar dari acara itu, kita langsung menjadi seorang yang spirituil, beriman, bertaqwa dan mampu menyumbangkan sesuatu yang besar pada dunia (sebuah ekspektasi instan). Masak cuma sehari doang bisa langsung seperti itu, seumur hidup juga belum tentu berhasil. Yang realistis untuk kita harapkan dari acara-acara semacam itu adalah adanya perubahan paradigma (paradigm shift) dalam diri kita. Misalnya cara berfikir, persepsi atau konsep diri yang lebih positif. Konsep diri misalnya, menjadi sangat penting perannya bagi perubahan diri karena seseorang akan berusaha hidup atau bertingkah laku sesuai dengan label atau konsep yang ia lekatkan pada dirinya.

Ngomong-ngomong soal konsep diri, saya merasa bahwa saat ini saya termasuk orang yang sangat perlu untuk memperbarui konsep diri: menjadi lebih positif! Berikut saya kutip ciri-ciri orang dengan konsep diri negatif dan positif, dari buku yang akhir-akhir ini sering saya baca, agar tahu apa saja yang perlu diubah agar konsep diri menjadi lebih positif.

Ciri-ciri orang yang memiliki konsep diri negatif:
(1) Tidak tahan kritik dan mudah marah. Koreksi sering dipersepsi sebagai usaha untuk menjatuhkan dirinya
(2) Responsif sekali terhadap pujian, walaupun mungkin berpura-pura menghindari pujian
(3) Mudah mengeluh, mencela dan meremehkan orang lain
(4) Cenderung merasa tidak disenangi orang lain
(5) Bersikap pesimis terhadap kompetisi

Ciri-ciri orang yang memiliki konsep diri positif:
(1) Yakin akan kemampuannya mengatasi masalah
(2) Merasa setara dengan orang lain
(3) Menerima pujian tanpa rasa malu
(4)Menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan, dan perilaku yang tidak semuanya disetujui masyarakat
(5) Mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha mengubahnya.

*dadang @121208,
masa penantian

27 October 2008

Pemuda mencintai Indonesia


Ada banyak predikat yang dilekatkan pada sosok pemuda. Seperti misalnya, pemuda adalah pemimpin masa depan, garda depan perubahan, tulang punggung kemajuan bangsa, dll. Peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah kehidupan bangsa Indonesia pun tak pernah lepas dari peran penting pemuda. Sebut saja kebangkitan nasional, sumpah pemuda, proklamasi kemerdekaan, hingga peristiwa reformasi 1998. Oleh karena itu, saya sependapat dengan apa yang dikatakan Anies Baswedan (yang sering dimunculkan di Metro TV) bahwa untuk menjadi Indonesia yang lebih maju dan sejahtera, kita butuh pemimpin-pemimpin muda yang tidak hanya memikirkan dirinya tetapi juga memikirkan bangsanya. Tidak hanya mencintai dirinya, tetapi juga mencintai bangsanya. Walaupun, mencintai bangsanya itu pada hakikatnya juga salah satu bentuk cinta kepada diri sendiri. Seperti juga yang diajarkan dalam agama bahwa kalau kita berbuat baik pada orang lain, sejatinya kita sedang berbuat baik pada diri sendiri.


Cinta dan mencintai
Saya jadi ingat yang dikatakan oleh seseorang. Katanya cinta
itu berbeda dengan mencintai. Menurutnya, cinta adalah tabiat dan kecenderungan. Sedangkan mencintai – kata cinta dengan awalan me- dan akhiran –i, menjadi sebuah kata aktif (dan bahkan proaktif) yang memberikan kemerdekaan bagi si subjek untuk memilih dan memutuskan. Misalnya, “Saya cinta wanita cantik.” Itu wajar karena memang sudah tabiat dan kecenderungan seorang manusia laki-laki. Berbeda dengan: “Saya mencintai seorang wanita bernama................. yang sekarang menjadi istri saya.” Pada kalimat kedua, ditunjukkan perilaku memilih dan memutuskan secara sadar yang implikasinya adalah tanggungjawab dan komitmen kita dalam mencintai. Jadi, dalam mencintai ada kemerdekaan untuk memilih dan memutuskan yang karenanya ada tanggung jawab dan komitmen.

Mencintai Indonesia
Lalu, bagaimana caranya mencintai Indonesia? Noe Letto pernah menulis tentang 100 tahun kebangkitan nasional, yang di sana ada bagian tentang mencintai Indonesia. Menurutnya, mencintai Indonesia itu berbeda dengan, misalnya mencintai seorang perempuan (sebuah contoh yang akan lebih mudah dimengerti :P ). Kalau mencintai seorang perempuan, akan sedikit lebih mudah bagi kita untuk mencerna apa yang sebenarnya kita alami: suka kecantikannya, sikapnya, prinsipnya, kecerdasannya, hatinya, atau gabungan semuanya. Kalau sudah mengerti tentang apa yang sebenarnya kita alami, lalu ada pilihan untuk menindaklanjuti dengan langkah berikutnya: usaha untuk mendapatkan cintanya, me-maintain cintanya, dan memastikan bahwa output dari itu semua adalah keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. Dengan kata lain, menindaklanjuti dari cinta menjadi mencintai. Dan saat ini, Noe sudah siap-siap untuk mengkonkretkan apa yang ditulisnya. Saya kapan ya?

Nah, kalau mencintai Indonesia itu berbeda. Karena kita (saya dan juga Anda yang warga negara Indonesia) adalah bagian dari Indonesia, maka: “Saya mencintai Indonesia” berarti ‘bagian’ mencintai ‘keseluruhan’. Jadi, mencintai Indonesia adalah bagaimana kontibusi kita (sebagai bagian dari Indonesia) agar Indonesia bisa dan layak untuk dicintai. Setidaknya oleh bangsanya sendiri. Dicintai bukan saja karena kekayaan dan keindahan alamnya (sesuatu yang sudah given), tetapi juga karena kualitas dan kebudayaan manusianya.

Kalau bicara tentang kontribusi, menurut saya tidak usah muluk-muluk. Agar nantinya, kita tidak perlu menyedih-nyedihkan diri kita sendiri saat mendapati jarak yang teramat jauh antara apa yang ingin kita berikan dengan apa yang sanggup kita kerjakan. Niat mulia dan cita-cita besar itu harus, tetapi itu bisa dimulai dari yang kecil dan sehari-hari. Misalnya, sekarang ini sudah terlanjur ada stigma tentang perilaku negatif yang kemudian diberi label “Indonesia banget...”, seperti: menerobos lampu merah, rapat molor, buang sampah sembarangan, dsb. Maka, kita bisa memulainya dari diri sendiri untuk secara konsisten tidak melakukan perilaku-perilaku negatif itu. Lalu, seiring dengan bertambahnya peran dan wilayah tanggung jawab kita, maka akan semakin banyak yang bisa kita kerjakan sesuai peran yang kita mainkan. Entah sebagai seorang tenaga kerja profesional, pakar keilmuan, pendidik, pengambil kebijakan, dll. Dalam konteks mencintai Indonesia, maka output dari semua itu adalah Indonesia lebih layak untuk dicintai. Indonesia yang lebih maju, bermartabat, dan sejahtera.


dadang,
akhirnya tulisan ini jadi lumayan panjang.

*dimana-mana kalau sudah menyangkut cinta-mencintai, memang jadi panjang urusannya. Hohoho...

15 May 2008

Bercanda

Mereka, kadang-kadang, juga suka bercanda.
Ada yang bikin gemes seperti ini :
Pernah suatu kali, Fathimah berbincang-bincang dengan Ali, suaminya. Dalam perbincangan itu, Fathimah mengatakan bahwa dulu, ketika mereka belum menikah, dia pernah jatuh hati pada seorang laki-laki. Ali tentu saja agak kaget pada waktu itu. Hal itu tidak pernah ia dengar sebelumnya, dan baru ia dengar sendiri dari Fathimah, setelah mereka cukup lama menikah. Ali tentu saja sangat ingin tahu. Maka Ali langsung menanyakannya kepada Fathimah, siapakah laki-laki yang dahulu membuatnya jatuh hati itu. Dengan tersenyum kecil, Fathimah langsung menjawab, "Ali...".

Ada yang cerdas dengan situasi yang dihadapi seperti ini :
Dalam suatu pertemuan untuk menghormati penemuan mesin bicara (gramofon) dari Thomas Alfa Edison, seseorang memperkenalkan siapa Edison. Pidato pengantarnya sangat panjang dan bertele-tele. Para pendengar melihat bahwa pembicara itu seperti tidak bisa berhenti. Setelah pidato pengantar itu, Edison sendiri berpidato. Ia memulai pidatonya dengan berkata, “Saya menghaturkan terima kasih kepada bapak (pembicara terdahulu) atas pujiannya. Tetapi saya ingin memberikan koreksi. Tuhanlah yang menemukan mesin bicara. Saya hanyalah orang yang pertama kali menemukan mesin bicara yang bisa disuruh diam”.

Ada juga yang malah ‘sial’ seperti ini :
Ketika Theodore Roosevelt sedang berpidato dalam kampanye presiden, ia selalu diiterupsi oleh seorang yang selalu berteriak, “Aku demokrat, aku Demokrat.” Seperti kita tahu, Roosevelt itu tokoh partai Republik. Akhirnya Roosevelt bertanya dengan lembut, “Bolehkah saya bertanya mengapa Anda Demokrat?”.
“Kakek saya Demokrat,” jawab si pengganggu, “Bapak saya Demokrat, dan aku juga Demokrat.”
“Seandainya,” tanya Roosevelt selanjutnya, “kakek Anda keledai, bapak Anda keledai, Anda menjadi apa?”.
Khalayak terpana ketika sang pengganggu itu menjawab dengan cepat, “Republik!”.

salam, :)


01 May 2008

Konsultan Jodoh Dadakan



Pagi-pagi, si *******r –temanku yang baik hati itu, sudah mengirim pesan lewat SMS. Masih agak ngantuk, barusan nonton Champions League : Chelsea vs Liverpool. Cukup puas, akhirnya Chelsea yang menang dan lolos ke final. Final nanti jadi menarik. Kenapa? Karena
kans untuk mengalahkan MU di final menjadi lebih besar. Menurut catatan, dibandingkan Liverpool, Chelsea lebih mempunyai kans untuk mengalahkan MU. Sip, final nanti dukung Chelsea. Go Chelsea! Halah, sejak kapan jadi pendukung Chelsea. Ya, pokoknya siapapun itu, jagoin lawannya MU! Hehe.. :)

Kembali ke SMS. Begini pesan panjang 3 halaman yang jadi 'enggak biasa' karena dikirim pagi-pagi itu:

“Dank, td ada temanku cew yg nelpon, ‘ngadu’ sama aq. Dia merasa terganggu ada seorang cow yg suka sama dia n ngungkapin perasaannya bhkn menyinggung pernikahan. Si cew ini langsung tegas nolak tp yg cow blm nyerah, dia msh aja menghub.. Cb bayangin aq hrs ngapain. 2 org ini tmn baikku. Yg cow gak pernah cerita ke aq n dianya gak tau kalo si cew ini ngadu k aq krn merasa takut n terganggu.. Kalo km jd aq km blg apa? He2, kyk di film2 aja ya, tp ini nyata lho. Aq jd konsultan jodoh ni.”

Waduh, pagi-pagi begini... Dengan mata yang masih mengantuk, segera saya balas pesan dari konsultan jodoh dadakan (pagi-pagi lagi!) itu. Tidak lupa memasang wise mode ditambah sedikit sok tahu:

“Km bilang aja ke temanmu yg cew itu: gak usah resah temanku, km sama aq aja.. hehe,brcanda :) Intinya yg cow ***r. Ksh aja pngertian ke si cow itu kalo cew itu punya posisi yg tinggi utk nerima ato nolak. Setauku cew emg suka org yg pantang menyerah, tp ia jg sgt respek sm org yg tau diri. Pantang nyerah itu bgs, tp ttp hrs tau diri..”

Benar-benar sok tahu. Untuk yang beginian, harus diakui: i know nothing about woman! SMS-an pagi-pagi itu terus berlanjut. Namun, bukannya semakin mendalami masalah 'klien'-nya temanku itu, tetapi malah semakin melebar kemana-mana. Jadi, enggak usah ditulis di sini... :)

OK deh, selamat jadi konsultan jodoh dadakan. Tapi jangan-jangan justru 'sang konsultan' itulah yang sebenarnya diharapkan oleh 'si klien' untuk menjadi pahlawan hatinya yang sesungguhnya. Hehe... analisis yang terlalu brutal... :)

*nama 'sang konsultan' sengaja disamarkan agar tidak kebanjiran telpon konsultasi perjodohan. hehe... :)

14 April 2008

Cantik!


Berbahagialah orang yang jelita, karena dimana-mana ia merebut cinta. Karena kecantikannya, hati semua orang terpaut kepadanya. Bahkan, bergaul dengannya dianggap sebagai sebuah keberuntungan. Wajah yang indah, katanya, adalah obat bagi hati yang menderita dan kunci bagi pintu yang tak terbuka.

Begitulah kira-kira yang diungkapkan Sa’di dalam Gullistan, kecantikan berkorelasi positif dengan keberuntungan dan kebahagiaan. Maka tidak mengherankan kalau kecantikan menjadi dambaan setiap wanita (kedengaran seperti iklan apa gitu...). Tapi tunggu dulu. Cantik itu yang bagaimana? Bukankah cantik itu relatif? Apa yang disebut sebagai “cantik” itu belum disepakati. Artinya, yang dibilang “cantik” oleh si A, bisa jadi dikatakan “kurang cantik” oleh si B, dan juga sebaliknya. Ya, walaupun memang agak sulit misalnya menyebut... ya katakanlah Dian Sastro, Dhini Aminarti, atau Intan Nuraini (jadi kayak pecandu TV gini ya? ) itu “tidak cantik”. Rasanya seperti mengingkari hati nurani (halah!).


Harus diakui bahwa memang ada orang-orang yang disepakati oleh orang banyak sebagai yang “cantik” itu tadi. Tapi, tetap saja merupakan subjektivitas. Ada yang bilang bahwa pendefinisian “cantik” adalah konstruksi sosial. Kabarnya, skripsinya Dian Sastro (lagi!) membahas hal ini. Artinya, orang mengatakan bahwa seseorang itu cantik banget, cantik aja, atau sedikit cantik, dipengaruhi oleh pergaulan sosialnya. Dan ini bisa dibangun. Yang paling ampuh, tentu saja lewat media massa.


Berkaitan dengan konstruksi sosial tentang kecantikan, ada hal menarik yang diungkapkan dalam buku The Mismeasures of Women (saya membaca sedikit ulasannya dalam The Road to Allah). Di sana disebutkan bahwa sepanjang sejarah, kecantikan wanita itu diukur bukan oleh wanita itu sendiri, melainkan oleh kaum lelaki! Misalnya, pada zaman renaisance yang disebut wanita cantik adalah yang bertubuh gemuk (bisa dilihat dari lukisan2 di zaman itu). Kemudian banyak kaum wanita pada zaman itu yang berusaha menggemukkan tubuhnya dengan obat-obatan yang kadang justru membahayakan kesehatannya. Pernah juga ketika kecantikan diterjemahkan sebagai tubuh yang tinggi dan langsing, lalu banyak perempuan yang berlomba-lomba menguruskan tubuhnya dengan aneka produk kecantikan. Dalam hal ini bisa dikatakan: men rules! Dan boleh jadi ini adalah suatu capital rules! Dimana persepsi umum tentang “cantik” dibentuk sedemikian rupa untuk kepentingan bisnis produk-produk kecantikan. Oh, kejamnya (atau pinternya?) para kapitalis!



Dalam buku Female Brain memang ditunjukkan secara ilmiah bahwa kaum perempuan lebih terobsesi dengan penampilannya dibandingkan kaum laki-laki. Dikatakan bahwa estrogen beroktan tinggi mengaliri jalur-jalur otak mereka dan menyulut obsesi tentang penampilan. Tapi, benarkah obsesi itu bertujuan, seperti yang dikatakan dalam Female Brain, untuk membuat kaum laki-laki menganggap mereka menarik? Saya pernah menanyakannya pada sepupuku yang perempuan (sebenarnya gak penting banget nanyain yg kayak gini...). Katanya, gak juga! Menurutnya, perempuan memang suka kalau melihat diri mereka sendiri menarik. Memang bener kali ya? Makanya gak heran kalau mereka sering bercermin! :)


Ada yang tak boleh dilupakan: inner beauty. Saya sendiri gak tau pasti apa itu inner beauty. Yang jelas, itu adalah yang selain physical beauty yang sudah dibicarakan di awal tadi. Ada yang bilang itu pengaruh “kecantikan hati”, ”kecantikan pikiran”, atau “kecantikan akhlak”. Seolah memancar dari dalam (makanya disebut inner). Tidak rigid tapi bisa dirasakan. Ada seseorang yang menurut saya, physically cantik banget, tapi entah kenapa kok agak kurang menarik ya. Sementara, ada yang physically biasa aja, tapi entah kenapa kok ya malah sangat menarik. Mungkin ini pengaruh inner beauty (dalam persepsi saya). Pengaruhnya bisa sangat kuat dalam diri seseorang. Dan bagusnya, semua orang bisa memilikinya. Kalau physical beauty , barangkali, adalah kualitas yang given (udah dari sononya), maka inner beauty adalah kualitas yang bisa dipelajari. Bisa diperoleh dengan proses belajar.


Ada yang pingin lebih cantik? Pasti gak ada yg tidak mau...

*sebagai selingan ngerjain TA :)

06 April 2008

Hati yang bermusim


Dalam salah satu bagian di ‘edensor’, Ikal menceritakan kota Paris saat mulai menyambut musim panas. Ia menggambarkan bagaimana polisi menjadi lebih ramah; tukang kebab yang terkenal pelit, membanting harga sesukanya; kondektur metro yang biasanya cemberut, mulai merekahkan senyum. Di teater, penonton bersukacita. Pementasan kisah-kisah pilu dimana kebahagiaan pun sampai ditangisi, berganti dengan cerita orang-orang yang justru bisa menertawakan kesusahannya.

Petani tersenyum, gadis-gadis kecil tersenyum, penggembala tersenyum, semuanya tersenyum. Bahkan, menurut Ikal, biri-biri gendut pun tersenyum. Intinya: hati yang menciut dan mudah putus asa, saat itu kembali merona. Perubahan musim telah memberi perubahan pada suasana hati orang-orang, lalu perilakunya, dan lalu kehidupan sosial mereka.

Lalu, apakah dalam hati seseorang sendiri juga bermusim? Kalau suasana hati (mood) yang sering berubah-ubah, memang iya. Tapi, untuk yang ini barangkali lebih tepat kalau dianalogikan sebagai cuaca, bukan musim. Musim, durasinya lebih panjang. Setahun cuma ada empat musim (atau dua saja untuk wilayah tropis seperti Indonesia ini). Musim adalah kecenderungan cuaca dalam kurun waktu yang relatif lama. Musim hati berarti kecenderungan suasana hati dalam waktu yang tidak sebentar.

Kalau musim hati memang ada, berarti juga ada macam-macamnya. Ada saatnya hati cenderung terisi dengan setumpuk emosi negatif. Saat menjumpai hal-hal yang tidak diinginkan atau mengalami peristiwa-peristiwa yang tidak diharapkan, hati menjadi penuh ketidakrelaan, marah, jengkel, kecewa, sedih, sakit hati, merasa terhina, dsb. Ada juga saatnya, hati cenderung kepada emosi positif seperti keceriaan, antusiasme, kepuasan, dan cinta, yang membuat pemiliknya menjadi lebih mudah menolong, ringan tersenyum, gampang memaafkan dsb., sekalipun sedang berhadapan dengan episode yang tidak diinginkan.

Jadi, memang adakah musim di hati itu? Kalau memang ada, apakah ia juga datang silih berganti seperti pergantian musim di atas bumi? Ataukah, kita sendiri bisa mengupayakan menghadirkan musim ke dalam hati sesuai yang kita sukai?

Di ujung sebuah do’a –yang oleh Rasulullah dijamin bahwa seorang hamba tidak akan ditimpa duka cita dan kesedihan jika membaca dan mempelajarinya, dituliskan: “...Semoga Engkau jadikan Al Qur’an musim semi dan cahaya bagi hatiku, penghapus kesedihanku, dan penawar duka citaku.”

12 February 2008

Toxic Success: sukses yang beracun

Ternyata sukses tidak selalu manis. Sukses bisa juga justru menghancurkan kehidupan seseorang. Membuat seseorang dihantui oleh disforia: kesedihan, ketakutan dan kecemasan, untuk mengejar dan mempertahankan sukses. Paul Pearsall, seorang doktor psikologi pendidikan, menyebutnya sebagai toxic success. Sukses yang beracun. Menurutnya, gejala psikologis ini begitu banyak menyebar di dunia modern ini sehingga seringkali orang menganggapnya sebagai sesuatu yang normal.

Mengapa sukses bisa mengandung racun?
Diantara sebabnya adalah pandangan hidup yang menganggap sukses sebagai perjuangan hidup atau mati, masalah to be or not to be. Merasakan emosi bersaing, menang dan mengalahkan lawan. Contoh yang cukup menarik adalah yang dituliskan oleh Matt Biondi, seorang peraih delapan medali emas dalam tiga olimpiade menulis, dalam pengantar buku Toxic Success: How to Stop Striving and Start Thriving, karya Dr Pearsall. Ia menuliskan:

"...Aku telah mengejar sukses karena, seperti kebanyakan orang, aku berpikir bahwa sukses akan mengangkatku di atas semua yang lain dan bahwa aku akan merasa berada di atas dunia. Tetapi bersamaan dengan sukses yang aku rindukan, datanglah kesadaran bahwa berada di atas dunia membuat aku tidak lagi menjadi bagian dari dunia sebenarnya –bahkan aku merasa hilang di dalamnya. Sukses telah memperbudak aku. Karena, begitu aku tampak memilikinya, sukses akhirnya memiliki aku.

Aku ingat kenangan masa kecil ketika aku jatuh, mengusap daguku, dan lari ketakutan untuk dihibur ibuku. Aku ingat bagaimana rasanya menunjukkan kelemahanku secara bebas dan bukan menunjukkan bahwa aku tak terkalahkan. Aku ingin bebas berbagi hidup yang bermakna dan bahagia dengan orang-orang yang aku cintai. Untuk menikmati perasaan menjadi saudara yang baik, anak yang penuh kasih, dan pada suatu hari menjadi seorang suami dan ayah yang membahagiakan anak-anakku sendiri, serta berbagi kekacauan hidup yang menakjubkan dengan seseorang yang mencintaiku bukan karena, tetapi, walaupun aku berhasil. "

Sebuah pengakuan kerinduan yang jujur dan bersahaja. Untuk mengejar dan mempertahankan sukses, seringkali seseorang mengorbankan hal-hal yang indah dalam kehidupan –seperti kasih sayang, cinta, persahabatan, dan keimanan.

Tentu saja tidak semua orang sukses menderita toxic success. Ada sukses yang beracun dan tentu saja ada sukses yang manis adanya. Kalau ditawarkan memilih yang mana, tentu saja setiap orang akan memilih yang kedua. Hanyasaja, racun-racun sukses itu barangkali tidak kita sadari sebelum ia benar-benar merusak keberhasilan kita. Yang harus kita lakukan adalah berhati-hati. Sambil berhati-hati terhadap racun-racunnya, sebagai orang muda kita bertanggungjawab untuk memperjuangkan mimpi-mimpi dan cita-cita kita menjadi kenyataan.

*Semangat, dank! Tugas Akhir menunggumu ;)
Kadang2 saya merasa butuh menyemangati diri sendiri...

22 October 2007

'Lebaran Syndrome'

Saat lebaran. Saat berkunjung atau dikunjungi sanak famili. Orang-orang seumuran saya ini biasanya akan menemui pertanyaan-pertanyaan yang khas. Pertanyaan seperti: "Kapan nikah?", "Kapan, married?", atau yang serupa maksud dan tujuannya, akan banyak ditemui pada acara penuh kehangatan dan keakraban itu. Atau cukup dengan pertanyaan sedikit menggantung: "Kapan?". Memang pertanyaan yang terakhir ini tentu saja membuka banyak sekali kemungkinan penafsiran. Seperti, kalau untuk saya pada saat sekarang ini, akan sangat logis apabila menafsirkan pertanyaan tersebut sebagai: "Kapan LULUS?". Tapi, jika pertanyaan "Kapan?" ini disertai dengan bahasa tubuh yang 'agak mencurigakan' misalnya senyum 'sedikit menggoda' (saya tidak menemukan istilah yang lebih tepat) oleh si penanya, kemungkinan besar kita tidak akan salah untuk menafsirkannya sebagai pertanyaan yang di awal tadi.

Inilah yang, entah oleh siapa, dipopulerkan sebagai 'Lebaran Syndrome'. Seperti yang dialami oleh temanku ini. Dan juga ini.

Saya sendiri? Alhamdulillah belum.
Kebetulan saya masih punya
mas yang pada lebaran ini, juga menemui pertanyaan yang bagi orang-orang tertentu, cukup meresahkan ini.