20 April 2008

Jumat Sore

Rasanya wajar kalau kadang-kadang kita rindu sama hal-hal yang sudah lama tidak kita lakukan. Saya juga mengalaminya. Bagus sih. Jum’at siang kemarin, Iskandar a.k.a Pak Is mengirim pesan lewat SMS:
“...km msh ikt kajian2? Aq dah lama sekali gak ikut. Tau jadwal2 kajian? Aq rindu...dst

Eh, ternyata sama. Saya sudah lama (banget) gak ikut kajian-kajian di lingkungan kampus. Ya kebetulan, waktu itu saya lagi di jurusan, langsung saja saya balas:
Biasanya tiap jumat sore, di maskam ada. Kalo mau, ntar ashar ketemuan di sana?”

Sebenarnya, saya juga gak tau pasti sekarang masih ada atau gak. Sudah lama saya gak update sama kegiatan-kegiatan di sana. Tapi, kalaupun misalnya ternyata gak ada, kan bisa diganti dengan ngobrol-ngobrol sambil menikmati sore hari di sana. Menurut saya, maskam (masjid kampus) memang salah satu tempat di kampus yang suasana sorenya cukup indah. Ramai orang-orang tapi tetap memberi ketenangan.

Iskandar setuju... Eh, ternyata dia lagi di rumah, lagi seneng-senengnya main sama keponakannya yang baru beberapa bulan. Cowok. Kalau gak salah, namanya Fatihul Aufa. Lagi lucu-lucunya katanya. Ya, asal jangan terus desire to have children. Hehe.. Jangan sekarang maksudnya.

Seperti biasa, ashar di maskam jama’ahnya cukup ramai. Setelah ashar, belum ada tanda-tanda kalau bakal ada kajian. Sambil menunggu, kita ngobrol-ngobrol. Sesuai plan B lah. Dalam obrolan itu, dengan sangat meyakinkan, Iskandar mempromosikan film “The Secret” yang dia bawa. Katanya bagus dan bikin semangat. Terus, sempat saya tonton sedikit pas di bagian prolognya yang memang bikin penasaran. Ternyata film itu dari buku “The Secret”. Belum baca sih bukunya, tapi di Togamas dan Social Agency, buku itu jadi best seller. Karena begitu mudahnya diprovokasi dipersuasi, akhirnya saya rela mengeluarkan motor, melaju ke kopma, beli dua keping CD dan kembali lagi ke maskam. Pengin juga nge-copy film itu. Hah, pembajakan di dalam masjid. Kejahatan kuadrat!!! Eit, tunggu dulu. Ini bukan pembajakan. Di film itu gak ada copy warning-nya kok. Sepertinya film ini memang dibuat untuk promosi bukunya. (Sebuah pembenaran yang agak dipaksakan. Tapi cukup meyakinkan... :p )

Kajian pun dimulai (rupanya memang ada kajian). Pembicaranya ust. Abu Ayyub (baru sekali ini ikut kajian beliau). Materinya Kitab Tauhid. Sudah sampai bab 9! Salah satu yang dibahas secara cukup panjang adalah Surat Al-An’aam (162) :
“Katakanlah: ‘Sesungguhnya, shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku, hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam...”
Penyampaian materinya sangat lugas dan meyakinkan. Saya lihat, yang hadir memang tidak terlalu banyak. Sekitar duapuluhan orang. Tapi saya perhatikan, mereka sangat tekun mendengarkan. Gak ada yang tampak mengantuk, gelisah duduknya, bikin coret-coretan di kertas, mainan HP, apalagi cekikikan atau ngobrol sendiri. Paling cuma saya yang kadang-kadang malah celingukan memperhatikan sekian orang yang hadir di sana. Hehe... :p

Materi yang disampaikan selama kurang lebih satu jam itu, cukup membangunkan kesadaran untuk kembali meluruskan orientasi diri. Paling tidak, memberi secercah kesadaran untuk saya yang sedang membaca dan mencermati sisi gelap diri.

Selain kajian, sore itu juga ada persaksian seorang mu’allaf yang mengucap dua kalimat syahadat. Di akhir acara, si bapak itu menceritakan sedikit perjalanan hidupnya sampai akhirnya berganti keyakinan. Bukan kali ini saja mengikuti persaksian semacam itu, tapi selalu saja ada keharuan setiap mendengarkannya. Sekali lagi, saya diingatkan. Betapa besar nikmat-Nya yang ada pada diri ini.

***
Film The Secret (menurut saya) ternyata cenderung membosankan. Padahal, prolognya sudah bikin penasaran: gulungan kertas yang katanya berisi “The Secret” diperebutkan, dibawa lari, dikejar-kejar pasukan Mesir, terus dikubur, dicuri, berpindah tangan dst... Muncul nama tokoh-tokoh dunia seperti Plato, Shakespeare, Newton, Beethoven, Lincoln, Einstein, dsb. Selebihnya, berisi ceramah kesaksian disertai sedikit ilustrasi dari orang-orang yang katanya mengetahui ‘rahasia’ yang tidak pernah dipublikasikan itu. Sepanjang film bertaburan pesan-pesan positif ala buku-buku motivasi.

4 comments:

Anonymous said...

hmmm...
saya juga rindu kajian nih...
terakhir hari ahad tgl 23 maret di maskam bersama istri tercinta mendengarkan kajian ahad pagi...
duh... rasanya dah haus dengan ilmu agama...
hmmm... tidak sabar menunggu hari2 itu lagi...

Dadang Suhirman said...

Waah, kalo kajiannya ada 'temen'nya gitu, jadi tambah semangat kali ya... :)

Apa di Jepang sono gak ada kajian2 kayak di sini Pak?

Anonymous said...

subhanallah Dang...Aku juga ikut pas hari itu lho.... kajiannya Abu Ayyub memang tentang tauhid...Palagi yang bikin inget dadang cerita tentang bapak yg mualaf itu....Aku masih punya rekaman kajiannya lho, tiap kajian biasanya kurekam...Biar kalo ngantuk, di rumah bisa diputer ulang..hehe...Bisa jadi saat itu aku lihat dadang, tp pangling kali ya...Yeee malah ketemunya di cyber world...Subhanallah

Dadang Suhirman said...

ella: waaa.. salut el, kamu rajin ngikutin kajian (dan bahkan ngerekam juga) ya..
iya, pangling aku juga paling..

*ini komen udah lama bgt ya (tahun 2009) baru aku baca tahun 2010.. hoho..