27 October 2008

Pemuda mencintai Indonesia


Ada banyak predikat yang dilekatkan pada sosok pemuda. Seperti misalnya, pemuda adalah pemimpin masa depan, garda depan perubahan, tulang punggung kemajuan bangsa, dll. Peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah kehidupan bangsa Indonesia pun tak pernah lepas dari peran penting pemuda. Sebut saja kebangkitan nasional, sumpah pemuda, proklamasi kemerdekaan, hingga peristiwa reformasi 1998. Oleh karena itu, saya sependapat dengan apa yang dikatakan Anies Baswedan (yang sering dimunculkan di Metro TV) bahwa untuk menjadi Indonesia yang lebih maju dan sejahtera, kita butuh pemimpin-pemimpin muda yang tidak hanya memikirkan dirinya tetapi juga memikirkan bangsanya. Tidak hanya mencintai dirinya, tetapi juga mencintai bangsanya. Walaupun, mencintai bangsanya itu pada hakikatnya juga salah satu bentuk cinta kepada diri sendiri. Seperti juga yang diajarkan dalam agama bahwa kalau kita berbuat baik pada orang lain, sejatinya kita sedang berbuat baik pada diri sendiri.


Cinta dan mencintai
Saya jadi ingat yang dikatakan oleh seseorang. Katanya cinta
itu berbeda dengan mencintai. Menurutnya, cinta adalah tabiat dan kecenderungan. Sedangkan mencintai – kata cinta dengan awalan me- dan akhiran –i, menjadi sebuah kata aktif (dan bahkan proaktif) yang memberikan kemerdekaan bagi si subjek untuk memilih dan memutuskan. Misalnya, “Saya cinta wanita cantik.” Itu wajar karena memang sudah tabiat dan kecenderungan seorang manusia laki-laki. Berbeda dengan: “Saya mencintai seorang wanita bernama................. yang sekarang menjadi istri saya.” Pada kalimat kedua, ditunjukkan perilaku memilih dan memutuskan secara sadar yang implikasinya adalah tanggungjawab dan komitmen kita dalam mencintai. Jadi, dalam mencintai ada kemerdekaan untuk memilih dan memutuskan yang karenanya ada tanggung jawab dan komitmen.

Mencintai Indonesia
Lalu, bagaimana caranya mencintai Indonesia? Noe Letto pernah menulis tentang 100 tahun kebangkitan nasional, yang di sana ada bagian tentang mencintai Indonesia. Menurutnya, mencintai Indonesia itu berbeda dengan, misalnya mencintai seorang perempuan (sebuah contoh yang akan lebih mudah dimengerti :P ). Kalau mencintai seorang perempuan, akan sedikit lebih mudah bagi kita untuk mencerna apa yang sebenarnya kita alami: suka kecantikannya, sikapnya, prinsipnya, kecerdasannya, hatinya, atau gabungan semuanya. Kalau sudah mengerti tentang apa yang sebenarnya kita alami, lalu ada pilihan untuk menindaklanjuti dengan langkah berikutnya: usaha untuk mendapatkan cintanya, me-maintain cintanya, dan memastikan bahwa output dari itu semua adalah keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. Dengan kata lain, menindaklanjuti dari cinta menjadi mencintai. Dan saat ini, Noe sudah siap-siap untuk mengkonkretkan apa yang ditulisnya. Saya kapan ya?

Nah, kalau mencintai Indonesia itu berbeda. Karena kita (saya dan juga Anda yang warga negara Indonesia) adalah bagian dari Indonesia, maka: “Saya mencintai Indonesia” berarti ‘bagian’ mencintai ‘keseluruhan’. Jadi, mencintai Indonesia adalah bagaimana kontibusi kita (sebagai bagian dari Indonesia) agar Indonesia bisa dan layak untuk dicintai. Setidaknya oleh bangsanya sendiri. Dicintai bukan saja karena kekayaan dan keindahan alamnya (sesuatu yang sudah given), tetapi juga karena kualitas dan kebudayaan manusianya.

Kalau bicara tentang kontribusi, menurut saya tidak usah muluk-muluk. Agar nantinya, kita tidak perlu menyedih-nyedihkan diri kita sendiri saat mendapati jarak yang teramat jauh antara apa yang ingin kita berikan dengan apa yang sanggup kita kerjakan. Niat mulia dan cita-cita besar itu harus, tetapi itu bisa dimulai dari yang kecil dan sehari-hari. Misalnya, sekarang ini sudah terlanjur ada stigma tentang perilaku negatif yang kemudian diberi label “Indonesia banget...”, seperti: menerobos lampu merah, rapat molor, buang sampah sembarangan, dsb. Maka, kita bisa memulainya dari diri sendiri untuk secara konsisten tidak melakukan perilaku-perilaku negatif itu. Lalu, seiring dengan bertambahnya peran dan wilayah tanggung jawab kita, maka akan semakin banyak yang bisa kita kerjakan sesuai peran yang kita mainkan. Entah sebagai seorang tenaga kerja profesional, pakar keilmuan, pendidik, pengambil kebijakan, dll. Dalam konteks mencintai Indonesia, maka output dari semua itu adalah Indonesia lebih layak untuk dicintai. Indonesia yang lebih maju, bermartabat, dan sejahtera.


dadang,
akhirnya tulisan ini jadi lumayan panjang.

*dimana-mana kalau sudah menyangkut cinta-mencintai, memang jadi panjang urusannya. Hohoho...

3 comments:

Tee said...

Setujuh dan sedelapan dang! Emang kita harus mulai berpikiran positif ttg bangsa kita dan mulai mengerjakan hal yang positif untuk bangsa ini...

Unknown said...

bukannya yang bener "What we have done for Indonesia?" --"Apa yang telah kita lakukan untuk Indonesia?"
atau memang penafsiranku yang salah ya?
"What we have been done for Indonesia?" --"Apa yang telah dilakukan Indonesia untuk kita?"

CMIIW

Dadang Suhirman said...
This comment has been removed by the author.