12 December 2008

Berubahlah untuk Maju!

Harus kita sadari
Perubahan tak datang sendiri
Berubahlah untuk maju
...
*) potongan jingle iklan sebuah produk susu di TV

Sudah menjadi keyakinan atau paling tidak pengetahuan bagi banyak orang –termasuk saya juga, bahwa perubahan besar bisa berawal dari hal-hal kecil (yang dimulai dari diri sendiri dan saat ini juga. 3M-nya aa’, hehe...). Yang menjadi pertanyaan adalah apakah pengetahuan dan keyakinan itu sudah secara konsisten (atau istiqomah, kalau dalam istilah agama) dikonkretkan dalam amal nyata? Dan kalau belum, mengapa sampai terjadi inkonsistensi itu? Salah satu jawaban yang bisa ditawarkan adalah bahwa banyak orang –sekali lagi termasuk saya juga, yang terjangkiti ekspektasi instan.

Orang mengharapkan untuk segera memanen hasil dari apa yang sudah ia lakukan itu secepat mungkin. Kalau perlu, hasil sebesar-besarnya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Dan apa yang terjadi kalau perubahan yang diharapkan itu tak kunjung datang (atau sebenarnya datang/terjadi tetapi secara gradual sehingga tidak dapat dirasakan oleh kesadaran orang yang mempunyai ekspektasi instan)? Ya betul, yang terjadi kemudian adalah inkonsistensi itu tadi. Segala sesuatu yang pada awalnya kita kerjakan dengan penuh semangat lalu berhenti di tengah jalan karena perubahan yang diharapakan secepatnya datang itu tak kunjung hadir. Padahal, segala sesuatu memang butuh proses. There’s no shortcut to heaven.

Ekspektasi instan semacam itu tidak jarang juga terjadi saat kita mengikuti training-training atau pelatihan singkat. Misalnya saja ada ‘training sehari melejitkan spiritualitas’ dsb. Jangan pernah mengharapkan bahwa begitu keluar dari acara itu, kita langsung menjadi seorang yang spirituil, beriman, bertaqwa dan mampu menyumbangkan sesuatu yang besar pada dunia (sebuah ekspektasi instan). Masak cuma sehari doang bisa langsung seperti itu, seumur hidup juga belum tentu berhasil. Yang realistis untuk kita harapkan dari acara-acara semacam itu adalah adanya perubahan paradigma (paradigm shift) dalam diri kita. Misalnya cara berfikir, persepsi atau konsep diri yang lebih positif. Konsep diri misalnya, menjadi sangat penting perannya bagi perubahan diri karena seseorang akan berusaha hidup atau bertingkah laku sesuai dengan label atau konsep yang ia lekatkan pada dirinya.

Ngomong-ngomong soal konsep diri, saya merasa bahwa saat ini saya termasuk orang yang sangat perlu untuk memperbarui konsep diri: menjadi lebih positif! Berikut saya kutip ciri-ciri orang dengan konsep diri negatif dan positif, dari buku yang akhir-akhir ini sering saya baca, agar tahu apa saja yang perlu diubah agar konsep diri menjadi lebih positif.

Ciri-ciri orang yang memiliki konsep diri negatif:
(1) Tidak tahan kritik dan mudah marah. Koreksi sering dipersepsi sebagai usaha untuk menjatuhkan dirinya
(2) Responsif sekali terhadap pujian, walaupun mungkin berpura-pura menghindari pujian
(3) Mudah mengeluh, mencela dan meremehkan orang lain
(4) Cenderung merasa tidak disenangi orang lain
(5) Bersikap pesimis terhadap kompetisi

Ciri-ciri orang yang memiliki konsep diri positif:
(1) Yakin akan kemampuannya mengatasi masalah
(2) Merasa setara dengan orang lain
(3) Menerima pujian tanpa rasa malu
(4)Menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan, dan perilaku yang tidak semuanya disetujui masyarakat
(5) Mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha mengubahnya.

*dadang @121208,
masa penantian

4 comments:

Tee said...

Wah masa penantian sebelum masuk dunia kerja yo Dank. Kekeke...Never stop to be better..=)

Dadang Suhirman said...

Iyo Jo', kalau padi 'menanti sebuah jawaban', kita2 'menanti sebuah (syukur kalau malah banyak) panggilan'. hehe...

Sidik Nugroho said...

bagus ulasannya. terima kasih.

Bintang said...

Nice writing, mampir ke tempatku dank, btw namaku ditulis sesuai blognya ya? hehehe